Minggu, 28 April 2013 By: Muthia Audina

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK PADA 3 TAHUN PERTAMA


                                                                         BAB I                          
PENDAHULUAN

            Berkembang adalah suatu  proses yang tidak bisa dihindari oleh manusia,semua manusia yang ada di dunia pernah mengalaminya.Perkembangan pada manusia itu bersifat maju artinya tidak dapat di putarbalikkan.Manusia tumbuh awalnya dari bayi, kanak-kanak, remaja,dewasa, lansia, dan akhirnya meninggal.
           
 Perkembangan manusia terjadi sejak di dalam kandungan sampai pada kematian. Salah satunya aspek perkembangan yang penting pada manusia adalah  perkembangan kognitif pada usia 3 tahun pertama. Perkembangan kognitif merupakan cakupan dari seluruh proses berpikir,melihat,mencium,mendengar, dan segala hal perkembangan yang menyangkut pikiran manusia.Dan yang dimaksud dengan perkembangan kognitif pada 3 tahun pertama adalah proses belajar,mempersepsi,kecerdasan, dan hal-hal lainnya yang menyangkut tentang proses kognitif bagaimana anak atau bayi tersebut beradaptasi dan bertahan hidup di sekitar lingkungan maupun keluarga,bagaimana anak tersebut dapat mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada selama 3 tahun pertama.
           
Dalam makalah ini akan dibahas tentang kemampuan bayi dan balita melalui tiga sudut pandang yaitu behaviorisme, psikometrik, dan pendekatan piaget. Kemudian melalui tiga sudut pandang yang lebih baru yaitu: pemrosesan informasi,neurosains kognitif, dan social kontekstual serta menelusuri perkembangan awal bahasa dan membahas bagaimana munculnya.
 BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Perkembangan Kognitif
Berikut adalah tiga pendekatan klasik dalam perkembangan kognitif:
Pendekatan Behaviorist
Mempelajari cara kerja pembelajaran dasar, yang bertujuan pada bagaimana perilaku berubah dalam respon terhadap pengalaman.
  Pendekatan Psikometrik
Mengukur perbedaan kuantitatif dalam kemampuan kognitif dengan menggunakan test yang menyatakan atau memprediksi kemampuan tersebut.
  Pendekatan Piaget
Pada pendekatan ini melihat adanya perubahan, tingkatan, di dalam kualitas suatu kognitif yang berfungsi.
 2.1.1 Pendekatan Behaviorist
Bayi di lahirkan dengan kemampuan belajar dari apa yang mereka lihat, dengar, mencium, merasakan, dan memegang, dan mereka memiliki beberapa kemampuan untuk mengingat apa yang mereka pelajari. Kita akan melihat 2 proses pembelajaran yang dipelajari oleh behaviorist, yaitu: classical conditioning dan operant conditioning.                 
           Classical Conditioning
Classical conditioning adalah sebuah metode pembelajaran dimana stimulus netral dihubungkan dengan stimulus tidak terkondisi untuk menimbulkan respon terkondisi dimana respon terkondisi bersamaan dengan respon tidak terkondisi.
Contoh: Lia sedang menatap jendela pada saat hujan kemudian muncullah kilat diikuti dengan petir yang besar seketika Lia terlompat dari tempatnya, setelah beberapa saat muncullah kilat dan Lia lompat dari tempatnya padahal kilat tersebut tidak disertai dengan petir.
           Operant Conditioning
Operant conditioning adalah suatu usaha memperoleh penguatan dengan kata lain dengan pemberian reinforcement itu maka seseorang dapat mengontrol tingkah laku organisme.  
Contoh: seorang guru memiliki murid yang pemalu, guru tersebut menyuruh murid tersebut menunjukkan gambar yang dia buat, karena hasil yang dibuatnya bagus sekali guru tersebut memujinya berulang kali hingga rasa malu anak itu hilang. Ini lah yang disebut dengan operant conditioning dengan pendekatan positif.
           Infant memory
Rata-rata manusia tidak dapat mengingat ketika usianya belum genap 2 tahun.Ketidakmampuan ini disebut dengan infantile amnesia.Pada awal kehidupan, semua itu tidak tersimpan dalam memori karena otak kita belum berkembang dengan baik (Piaget, 1969).Sedangkan Freud meyakini bahwa awal memori itu tersimpan tetapi ditekan karena emosinya belum stabil.Penelitian lainnya mengatakan bahwa ada anak yang tidak dapat menyimpan dalam memori sampai mereka dapat menceritakan sebuah peristiwa (Nelson, 1992).

2.1.2 Pendekatan Psikometri: Perkembangan dan Test Intelligent
        Tugas pengetesan psikometrik adalah untuk mengukur secara kuantitatif berbagai faktor yang diduga membangun kecerdasan,dan dari hasil pengukuran tersebut,untuk meramalkan kinerja dimasa mendatang.
Intelligent behavior
Perilaku yang tujuan berorientasi dan beradaptasi dengan situasi dan kondisi hidup.
Contoh : seorang anak yang berumur 4 bulan menemukan cara bagaimana memasukkan jari ayahnya ke mulut dia dengan tangannya sendiri.

IQ Test
Test psikometri yang bertujuan untuk mengukur intelligent untuk membandingkan hasil test dengan peraturan yang sudah distandarisasi.
Melakukan test pada anak-anak atau bayi adalah persoalan lain. Karena bayi tidak dapat memberitahu kita apa yang mereka tau dan apa yang mereka pikir, cara yang paling sederhana untuk mengukur kepintaran mereka dengan apa yang bisa mereka lakukan. Tetapi jika mereka tidak tertarik dengan sebuah mainan, sangatlah susahmenebak bahwa apakah mereka tidak tahu, tidak suka melakukannya, tidak tau apa yang harus mereka lakukan dengan mainan tersebut, atau tidak memiliki ketidaktarikan pada mainan tersebut?
TestPerkembangan untuk Anak-anak dan Bayi
Meskipun sangat tidak mungkin untuk mengukur kepintaran bayi tadi, sangat mungkin untuk mengukur perkembangan kognitif mereka. Jika orang tua khawatir apabila mereka tidak melakukan hal yang sama sesuai dengan bayi-bayi yang lain pada umumnya, testing perkembangan dapat meyakinkan mereka bahwa perkembangannya normal atau   memberitahu bahwa terdapat masalah perkembangan terhadap bayi tersbut. Test perkembangan membandingkan performa bayi dalam beberapa tugas dengan norma-norma sebagai patokan atas dasar dari pengamatan sekumpulan bayi dan anak-anak dalam jumlah yang besar yang dapat dilakukan dalam umur-umur tertentu.
Contoh:Bayley Scales of Infant and Toddler Development.
Tes ini didesain untuk menguji perkembangan bayi dari usia 1 bulan hingga3 tahun setengah dan juga untuk melihat kekuatan, kelemahan, dan kompetesi dalam masing-masing 5 tahap perkembangan (kognitif,bahasa,motorik, emosi sosial, dan perilaku adaptasi) dari seorang anak untuk membantu orang tua dan ahlidalam membentuk rencanayang lebih baik untuk anaknya.Selain itu terdapat skor terpisah yang disebut sebagai development quotients(DQs),dihitung untuk setiap skala.Skor-skor ini didasarkan oleh deviasi rata-rata yang diperoleh dari perbandingan dengan sampel normal.DQs sangat berguna untuk deteksi dini gangguan emosional,sensorik,saraf, dan lingkungan.


Penilaian Interaksi Awal terhadap Lingkungan Rumah
Intelejensi pada awalnya dikira dibentuk pada saat lahir, kami tahu bahwa biasanya dipengaruhi oleh turunan dan pengalaman.Apa karakteristik dari lingkungan rumah yang memungkinkan untuk mempengaruhi kepintaran?
Dengan menggunakan Home Observation For Measurement Of The Environment, pengamat ahli menyusun daftar atas barang-barang dan suasana di rumah anak tersebut.Salah satu faktor penting yang diukur home adalah ketanggapan orang tua.Home memberi nilai yang lebih tinggi pada orang tua bayi atau anak yang membelai atau mengecup anak selagi pemeriksa berkunjung,pada orang tua yang memuji anak pra-sekolah secara spontan dan hal-hal positif lainnya.
Penelitian lain menemukan 6 aspek terhadap lingkungan awal rumah yang memfasilitasi perkembangan kognitif dan psikososial serta membantu kesiapan anak-anak untuk sekolah.
 Berikut 6 aspek tersebut:
         Keberanian untuk menjelajah lingkungan.
         Pembelajaran kognitif dasar dan kemampuan social seperti labeling dan membandingkan.
         Merayakan keberhasilan.
         Panduan dalam pelatihan dan pengembangan kemampuan.
         Perlindungan dari hukuman yang tidak sesuai seperti mengganggu, menghukum atas kesalahan akibat mencoba hal-hal yang baru.
         Menstimulasi bahasa dan komunikasi simbolik.
Kehadiran ke-enam aspek ini sangat penting untuk perkembangan otak pada tahap awal.
Early Intervention
Early Intervention (intervensi dini) adalah proses sistematis yang memberikan bantuan kepada keluarga untuk memenuhi kebutuhan perkembangan pada bayi,anak-anak dan anak pra-sekolah. Misalnya: Project CARE dan North Carolina.
Berikut adalah intervensi dini yang paling efektif adalah:
·         Dimulai dari dini dan akan berlanjut hingga masa pra-sekolah.
·         Sangat berjadwal intensif.
·         Memberikan pengalaman edukatif.
·         Mengikutsertakan layanan kesehatan,konseling keluarga, dan layanan social.
·         Disesuaikan bagi perbedaan dan kebutuhan individual.

Early Head Start,sebuah intervensi dini yang didanai Negara bagi keluarga berpendapatan rendah.

2.1.3 Pendekatan Piaget : Tahap Sensorimotorik
Tahap pertama dari empat tahap Piaget tentang perkembangan kognitif adalah tahap sensorimotorik. Pada tahap ini (pada usia 2 tahun), bayi belajar tentang mereka dan dunianya melalui aktivitas sensor dan motorik yang sedang berkembang.Bayi berubah dari mahkluk yang berespons terutama melalui refleks dan tingkah laku acak,menjadi anak yang tingkah lakunya beorientasi pada tujuan.
Sub-Tahap Sensorimotorik
Tahap sensorimotorik terdiri dari 6 sub-tahap, yang bergerak dari tahap satu  ke tahap berikutnya  sejalan dengan skema (schemes)  seorang bayi, pola yang rumit dari tingkah laku, menjadi semakin terperinci.
Selama sub 5 tahap petama, bayi belajar untuk mengkordinasikan input dari panca indra mereka dan mengorganisasikan aktivitas mereka yang berhubungan dengan lingkungan mereka. Mereka melakukan ini melalui proses organisasi, adaptasi, dan equilibrasi.
            Banyak dari pertumbuhan kognitif awal melalui circural reaction, dimana para bayi dapat mengulangi perilaku atau perbuatan yang mana sebelumnya perilaku tersebut terjadi secara tiba-tiba pada bayi.Intinya, perbuatan atau perilaku tersebut menghasilkan sensasi yang menyenangkan dimana bayi tersebut ingin mengulangi lagi hal tersebut.

Berikut adalah sub-tahap sensorimotorik menurut Piaget:
1.      Pada sub-tahap pertama(usia 1 bulan), bayi baru lahir mulai berlatih untuk mengambil alih refleks-refleks yang sudah ada sejak lahir, melibatkan diri dalam tingkah laku meskipun tidak ada stimulus normal pada saat itu. Contohnya adalah bayi yang baru lahir mulai menghisap secara refleks ketika bibir mereka disentuh.
2.      Pada sub-tahap kedua(usia 1-4 bulan), bayi mulai belajar untuk mengulangi perilaku-perilaku yang menghasilkan sensasi yang menyenangkan yang pada awalnya terjadi secara spontan, seperti menghisap jari. Mereka mulai tertarik pada bunyi, dan mulai menunjukkan kemampuan mengordinasi sebagai informasi sensorik (penglihatan dan pendengaran).
3.      Pada sub-tahap ketiga (umur 4-8 bulan), bersamaan dengan ketertarikan baru dalam memanipulasi objek dan mempelajari bagian tubuh mereka.Pada sub-tahap ini terjadi circular reaction sekunder, dimana bayi tersebut mengulang sebuah tindakan bukan karena dia mampu tetapi karena dia ingin mendapatkan hasil yang melampaui kemampuan tubuh bayi itu sendiri. Contohnya adalah bayi yang berusaha memainkan mainannya hanya untuk mendengarkan bunyi mainan tersebut.
4.      Pada sub-tahap keempat (8-12 bulan), bayi belajar menggeneralisasikan dari pengalaman lalu untuk memecahkan masalah. Bayi akan merangkak untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan, menggenggamnya atau menjauhkan benda yang menghalangi sesuatu yang mereka inginkan (misalnya tangan orang lain). Mereka memodifikasi dan mengordinasi skema-skema sebelumnya seperti skema-skema untuk merangkak, mendorong, menggenggam untuk menemukan cara agar bisa berhasil.
5.      Pada sub-tahap kelima (12-18 bulan), bayi mulai mencoba perilaku baru untuk melihat apa yang terjadi. Setelah mereka mulai berjalan, maka mereka dapat lebih mudah mengeksplorasi lingkungan mereka. Mereka sekarang memasuki reaksi sirkular tersier, memvariasikan tindakan untuk mendapatkan hasil yang serupa, ketimbang hanya mengulang perilaku menyenangkan yang secara tidak sengaja mereka temukan. Misalnya, seorang balita mungkin akan meremas bebek plastiknya yang berbunyi ketika ia menginjaknya, untuk melihat apakah benda tersebut berbunyi kembali. Untuk pertama kali, mereka menunjukkan orisinalitas dalam memecahkan masalah. Dengan trial dan error, mereka mencoba beberapa tindakan sampai mereka menemukan cara terbaik untuk mencapai tujuan.
6.      Pada sub-tahap keenam (18- 2 tahun), merupakan transisi ketahap pra-operasional masa kanak-kanak awal.Kemampuan representasional (representational ability) kemampuan secara mental menghadirkan kembali objek dan tingkah laku dalam ingatan, cukup banyak melalui simbol seperti kata, angka, dan gambar mental – membebaskan anak dari pengalaman langsung.Mereka bisa berpura-pura, dan kemampuan representasional mereka mempengaruhi kepuasan mereka dalam berpura-pura.Mereka dapat memikirkan tindakan mereka sebelum melaksanakannya.Mereka tidak lagi harus bersusah payah melalui trial and error untuk memecahkan masalah.
            Sepanjang keenam sub-tahap ini, bayi mengembangkan berbagai kemampuan berpikir dan mengingat.Mereka juga mengembangkan pengetahuan tentang aspek-aspek tertentu dari dunia fisik.
            Invisible imitation (imitasi tidak terlihat) adalah imitasi yang menggunakan bagian tubuh bayi yang mana tidak dapat terlihat oleh bayi itu sendiri, seperti mulut.Visible Imitation (Imitasi terlihat) adalah imitasi yang menggunakan bagian tubuh bayi dimana bayi tersebut dapat melihatnya.
            Piaget juga berpendapat bahwa anak dibawah usia 18 bulan tidak dapat melakukan deffered imitation (imitasi tertunda), suatu tindakan yang mereka lihat disuatu waktu sebelum mereka mengembangkan kemampuan mempertahankan representasi mental. Namun demikian, Piaget sepertinya meremehkan kemampuan representasi bayi dan anak karena terbatasnya kemampuan mereka menceritakan ingatan mereka.
            Elicited Imitation adalah metode penelitian dimana bayi atau anak dibuat mengimitasi serangkaian tindakan khusus yang mereka telah lihat, tetapi belum tentu pernah dilakukan sebelumnya.Elicited imitation jauh lebih andal dalam 2 tahun pertama, hampir 8 dari 10 anak usia 13 hingga 20 bulan dapat mengulang urutan yang asing dan langkah jamak hingga 1 tahun kemudian. Latihan sebelumnya membantu mengaktifkan kembali ingatan anak, terutama bila ada item-item baru yang menggantikan item-item sebelumnya. 4 faktor yang tampaknya menentukan kemampuan mengingat anak :
1. Banyaknya urutan peristiwa yang telah dialami.
2. Apakah anak secara aktif berpartisipasi atau sekedar mengamati.
3. Apakah anak diingatkan secara verbal tentang pengalaman tersebut.
4. Apakah urutan peristiwa terjadi menurut urutan biologis dan kausal.

Perkembangan Pengetahuan tentang Objek dan Ruang
Kapankah permanensi objek berkembang?
Salah satu aspek konsep objek adalah permanensi objek, pemahaman bahwa suatu objek atau seseorang terus menerus ada ketika tidak terlihat.
Piaget percaya bahwa bayi mengembangakn pengetahuan tentang berbagai objek dengan mengamati hasil dari berbagai pengamatan sendiri, dengan kata lain mengordinasikan informasi fisula dan motoric. Dengan cara ini menurut pengamatannya, permanensi objek berkembang bertahap semasa sensorik motor. Mulanya, bayi tidak memiliki konsep apapun seperti ini. Pada sub tahap ke tiga, dari sekitar 4 hingga 8 bulan, merekaakan mencari sesuatu yang mereka jatuhkan, tapi bila mereka tidak bisa melihatnya, mereka beranggapan seakan benda tersebut sudah tidak ada lagi. Pada sub tahap ini, sekita 12 hingga 18 bulan, kesalahan ini tidak lagi mereka lakukan, mereka akan mencari objek di tempat terakhir objek tersebut tersembunyi. Namun, mereka tidak akan mencari di tempat dimana barang tersebut tidak terlihat oleh mereka (yang disembunyikan). Pada sub tahap ke enam, usia 18 hingga 24 bulan permanensi objek sudah dicapai secara penuh akan mencari objek walaupun tidak melihatnya (yang disembunyikan).
Penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa Piaget menunjukkan bahwa Piaget meremehkan kemampuan bayi memahami permanensi objek, bayi mungkin saja gagal mencari objek-objek tersembunyi karena mereka tidak dapat melakukan tindakan-tindakan dengan langkah dua kaki dan kedua tangan, seperti memindahkan bantal, mengangkat kotak sebelum menggenggam objeknya ketika diberi kesempatan berulang-ulang, selama sebulan untuk menjelajah, memanipulasi, dan mempelajari tugas seperti itu, bayi di akhir pertengahan tahun pertama dapat melakukannya.
Perkembangan Simbolis, Kompetensi Piktorial, dan Berpikir Spasial
Seperti pendapat Piaget, pertumbuhan berpikir representasional memungkinkan anak membuat penelitian yang lebih akurat tentang berbagai objek dan hubungan spasial.Salah satu manifestasi perkembangan ini adalah tumbuhnya kompetensi piktorial, kemampuan memahami sifat alamiah dari berbagai gambar. Hipotesis representasi dual adalah menyatakan bahwa anak dibawah usia kesulitan memahami hubungan spasial karena kebutuhan untuk meyimpan lebih dari satu representasi mental secara bersamaan.
Hipotesis representasi dual memiliki implikasi praktis. Artinya para guru sekolah kanak-kanak tidak seharusnya berasumsi bahwa anak akan memahami ketika mereka menggunakan objek konkret, seperti kotak-kotak beragam ukuran, untuk mewakili konsep abstrak, contohnya adalah hubungan-hubungan numerik.

Mengevaluasi Tahap Sensorimotorik Piaget
Menurut Piaget, tahapan dari tingkahlaku refleks kepermulaan pikiran merupakan tahapan yang panjang dan lambat. Anak berusia kira-kira setahun atau setahun setengah, belajar hanya dari berbagai indera dan gerakan mereka, hingga akhir tahun kedua mereka membuat terobosan menuju pikiran konseptual.Oleh karena itu, dalam beberapa hal, bayi dan anak tanpa secara kognitif lebih kompeten daripada yang Piaget bayangkan.Hal ini tidak berarti bahwa bayi lahir dengan pikiran yang sudah terbentuk.Seperti yang diamati Piaget, bentuk-bentuk kognisi yang belum matang mengawali bentuk yang lebih matang.

2.2 Perkembangan Kognitif 3 Tahun Pertama : Pendekatan Kontemporal
Berikut pendekatan-pendekatan baru untuk menambah pengetahuan tentang perkembangan kognitif bayi dan anak.
           Information Processing Approach (Pendekatan Pemrosesan Informasi), berfokus pada berbagai proses yang terlibat dalam persepsi, pembelajaran, ingatan, dan pemecahan masalah. Pendekatan ini mencoba untuk menemukan apa yang dilakukan oleh orang dengan informasi, sejak saat mereka berhadapan dengan informasi hingga mereka menggunakannya.
           Cognitif Neuroscience Approach (Pendekatan Neurosains Kognitif), yaitu menelaah bagian-bagian system saraf pusat. Pendekatan ini berupaya untuk mengidentifikasi struktur-struktur otak yang terlibat aspek kognitif tertentu.
           Social Contextual Approach (Pendekatan Sosial Kontekstual), yaitu menelaah aspek-aspek lingkungan dari proses pembelajaran, khususnya peran orangtua dan pengasuh lainnya.
2.2.1 Information Processing Approach : Persepsi dan Representasi
Seperti pendekatan psikometrik, teori pemrosesan informasi memperhatikan perbedaan individual pada tingkahlaku dan kecerdasan.Tetapi, pendekatan itu bertujuan untuk mendeskripsikan berbagai proses mental yang terlibat ketika seseorang memperoleh dan mengingat informasi atau memecahkan masalah, dibanding sekedar menyimpulkan perbedaan pada fungsi mental dari jawaban-jawaban yang diberikan atau masalah-masalah yang dipecahkan. Penelitian pemrosesan informasi menggunakan metode-metode baru untuk menguji berbagai ide tentang perkembangan kognitif yang muncul dari pendektan-pendekatan sebelumnya.
Habituation
Banyak penelitian mengatakan pemrosesan informasi pada bayi didasarkan pada habituation, yaitu suatu jenis pembelajaran di mana pemaparan berulang atau terus menerus dari suatu stimulus mengurangi perhatian terhadap stimulus tersebut. Dengan kata lain,habituation adalah jenis pembelajaran dimana familiaritas dapat mengurangi stimulus, memperlambat atau menghentikan respon.
Penelitian-penelitian mengkaji habituasi pada bayi yang baru lahir dengan cara berulang-ulang memberikan suatu stimulus (biasanya suara atau pola visual) dan memonitori respon-respon seperti detak jantung, menghisap, gerakan mata dan aktivitas otak. Bayi yang sedang menghisap biasanya berhenti ketika stimulus-stimulus diberikan pertama kali, mengarahkan perhatiannya pada stimulus baru tersebut dan tidak lagi mulai menghisap sampai stimulusnya berakhir. Setelah suara diberikan lagi dan lagi, stimulus tersebut akan kehilangan kebaruannya dan tidak lagi membuat bayi berhenti menghisap. Melanjutkan kembali menghisap, menunjukkan bahwa bayi telah terhabituasi terhadap stimulus tersebut. Namun gambar dan suara yang baru akan menangkap perhatian bayi dan ia akan kembali berhenti menghisap. Peningkatan respon terhadap stimulus baru ini disebut dishabituation.

Kemampuan Perseptual serta  Pemrosesan Visual dan Auditori
Kecenderungan bayi memandang sesuatu lebih lama daripada memandang yang lain disebut visual preference (pre-ferensi visual).Bayi yang kurang dari dua hari lebih memilih untuk melihat garis-garis lengkung, pola kompleks, objek tiga dimensi, gambaran wajah, dan hal-hal baru.
Ingatan pengenalan visual (visual recognition memory) dapat diukur dengan menunjukkan dua stimulus bersebelahan pada bayi, yang satu familiar dan yang lainnya baru. Tatapan yang lebih lama kestimulus yang baru menunjukkan bahwa bayi mengenali stimulus yang satu lagi sebagai sesuatu yang pernah ia lihat sebelumnya.
Visual recognition memory adalah kemampuan untuk membedakan stimulus visual yang familiar dari yang tidak familiar ketika keduanya diperlihatkan secara bersamaan. Fakta menyatakan bahwa bayi baru lahir akan menoleh kearah sumber suara menunjukkan bahwa mereka mengasosiasikan pendengaran dengan penglihatan.
 Kemampuan yang hebat lagi adalah cross-modal transfer yaitu kemampuan menggunakan informasi yang diperoleh dari satu indra untuk menuntun indra yang lain. Contohnya: ketika seseorang mengidentifikasi berbagai objek dengan penglihatan setelah menyentuhnya dengan mata tertutup.

Pemprosesan Informasi sebagai Prediktor Kecerdasan
Korelasi yang lemah antara skor bayi pada tes-tes perkembangan dan IQ mereka, banyak psikolog percaya bahwa fungsi-fungsi kognitif bayi memiliki sedikit persamaan dengan IQ anak yang lebih tua atau orang dewasa. Dengan perkataan lain, terdapat diskontinuitas pada perkembangan kognitif, Piaget juga percaya demikian. Namun, ketika para peneliti menyusun bagaimana bayi dengan anak mengolah informasi, beberapa aspek perkembangan mental tampak cukup berkesinambungan sejak lahir. Anak yang sejak awal sudah efisien menangkap dan menerjemahkan informasi sensori akan mendapat skor tes-tes perkembangan yang baik.
Pemprosesan informasi dan perkembangan kemampuan Piaget seperti telah disebut pada bagian sebelumnya, bukti-bukti baru menunjukkan bahwa beberapa kemampuan kognitif yang Piaget gambarkan sebagai perkembangan menuju akhir tahap sensorimotorik ternyata  muncullebih dini.

Beberapa kemampuan kognitif yang sudah mulai berkembang 3 tahun pertama kehidupan yaitu :
1.      Kausalitas
Pemahaman kausalitas, prinsip satu kejadian menyebabkan kejadian lain, ini penting karena “memungkinkan seseorang untuk meramalkan dan mengendalikan dunianya”.Piaget percaya bahwa pemahaman ini berkembang perlahan pada tahun pertama.Pada sekitar usia 4 hingga 6 bulan,bayi mampu mengenggam objek mereka mulai bertindak terhadap  lingkungannya. Menurut Piaget, bayi belum tahu bahwa berbagai sebab muncul sebelum akibat, tidak mendekati usia 1 tahun baru menyadari bahwa kekuatan dari luar dirinya dapat menyebabkan sesuatu terjadi.
2.      Kategorisasi
Membagi-bagi dunia kedalam kategori-kategori yang bermakna merupakan hal yang penting terhadap tingkah laku berpikir mengenai berbagai objek dan konsep serta keterkaitannya. Menurut piaget kemampuan untuk mengklasifikasi berbagai hal, baru muncul pada sekitar 18 bulan. Namun jika bayi memperhatikan lebih lama sesuatu benda bahkan ketika dia baru berusia 3 bulan, bayi telah dapat membedakan misalnya saja antara anjing dan kucing.
Pengelompokkan ini disebut perceptual categorization  yaitu pengelompokkan berdasarkan ciri fisik objek seperti : ukuran, warna, pola atau bagian dari objek.
3.      Objek Permanensi
Penelitian pelanggaran terhadap ekspektasi (violation of expectations) dimulai dengan fase familiarisasi di mana bayi melihat suatu kejadian atau serangkaian kejadian berlangsung normal.Setelah bayi terbiasa terhadap prosedur ini, kejadian tersebut diubah sedemikian rupa sehingga berkonflik dengan melanggar ekspektasi normal.Pelanggaran terhadap ekspektasi adalah metode penelitian di mana kebiasaan terhadap suatu stimulus yang berkonflik dengan pengalaman dianggap sebagai bukti bahwa bayi mengenali stimulus baru tersebut sebagi hal yang mengejutkan.
Menggunakan metode pelanggaran terhadap ekspetasi,Renee Baillargeon dan tokoh lainnya menemukan bukti bahwa permanensi objek pada bayi berusia 3 ½  bulan. Bayi tampak terkejut ketika wortel yang lebih tinggi bergeser di balik layar tidak tampak ujung atasnya, padahal pada layar sebelumnya terdapat bagian terpotong.Di mana bagian wortel dapat dilihat bila lewat.
4.      Angka
Berbagai penelitian pelanggaran terhadap ekspektasi menunjukkan bahwa pengalaman angka sudah ada jauh sebelum sub tahap ke 6 Piaget, ketika ia mengakui anak-anak mulai menggunakan simbol. Menurut Wyen konsep numeriksudah ada sejak bawaan lahir sejak 5 bulan dan bahwa pengajaran pada anak sebenarnya hanya berupa pengajaran “nama” saja yaitu : “satu” “dua” dan seterusnya.

2.2.2 Pendekatan Neurosains Kognitif: Struktur Kognitif Otak
Beberapa peneliti telah mendokumentasikan perpindahan aktivitas otak untuk menentukan struktur otak yang memengaruhi fungsi kognitif dan mencatat perubahan-perubahan perkembangan.Penelitian-penelitian terhadap orang dewasa normal dengan yang mengalami kerusakan otak mengarah kepada 2 sistem ingatan jangka panjang yang terpisah.Eksplisit dan Implit yang memperoleh dan menyimpan jenis informasi yang berbeda.Explicit memory(ingatan eksplisit) bersifat sadar atau ingatan yang disengaja, biasanya terdiri atas berbagai fakta,nama,peristiwa,dan hal lain yang sesorang dapat utarakan dan nyatakan. Implicit memory(ingatan implisit) mengacu pada ingatan yang terjadi tanpa usaha atau bahkan kesadaran, secara umum menyimpan informasi tentang berbagai kebiasaan dan keterampilan, seperti tahu bagaimana melempar bola dan mengendarai sepeda.
Korteks Prefrontal (bagian besar lobus frontal yang terletak langsung di balik dahi) di percaya mengatur berbagai aspek kognisi. Bagian otak ini berkembang lebih lambat dibandingkan lain. Selama setengah tahun pertama, Korteks Prefrontal dan jaringan sirkuit yang berkaitan dengannya mengembangkan kapasitas ingatan kerja (working memory), penyimpanan jangka pendek terhadap informasi yang diolah, atau kerjakan, secara aktif oleh otak.Di dalam working memory representasi mental disiapkan untuk diingat kembali.

2.2.3 Pendekatan Social-Kontekstual: Pembelajaran Interaksi melalui Interaksi dengan Pengasuh
Penelitian-penelitian yang dipengaruhi oleh theory social budaya Vgotsky mengkaji bagaimana konteks budaya mempengaruhi interaksi sosial yang mungkin mendorong perkembangan kompetensi kognitif.Guided Participation merujuk pada interaksi timbal balik dengan orang dewasa yang membentuk berbagai aktivitas anak dan menjembatani jurang antara anak dan orang dewasa. Konsep ini diinspirasi oleh pandangan pembelajaran Vgotsky sebagai proses kolaboratif. Guided Participationsering terjadi pada saat bermain dan aktivitas biasa sehari-hari dimana anak belajar secara informal berbagai keterampilan, pengetahuan, dan nilai penting dalam budaya mereka.
Perbedaan budaya juga memengaruhi jenis guided participation yang dilakukan. Dengan kata lain konteks kultural memengaruhi cara para pengasuh berkontribusi pada perkembangan kognitif. Contohnya, keterlibatan langsung  dengan anak saat bermain dan belajar lebih cocok dilakukan oleh ibu atau pengasuh yang memiliki banyak waktu di rumah, kemampuan verbal yang baik dan yang memiliki ketertarikan lebih dalam bermain dan belajar anak.

2.3 Perkembangan Bahasa
Language (bahasa) merupakan sistem komunikasi berdasarkan kata dan tata bahasa.Pertumbuhan bahasa mengilustrasikan dari berbagai aspek perkembangan.Dengan matangnya berbagai struktur fisik yang dibutuhkan untuk menghasilkan suara dan mulai aktifnya berbagai koneksi suara yang dibutuhkan untuk mengasosiakan makna, interaksi sosial mengenalkan bayi pada sifat komunikatif bicara.

2.3.1 Urutan Perkembangan Bahasa Awal
Sebelum menggunakan kata, bayi mengusahakan agar kebutuhan dan perasaan mereka diketahui. Seperti yang dilakukan Doddy Darwin, melalui suara-suara yang bergerak maju dari menangis sampai mengeluarkan bunyi tanpa arti sama sekali seperti celoteh. Kemudian imitasi tidak disengaja dan imitasi sengaja.Suara-suara ini biasanya dikenal sebagai Prelinguistic Speech(bicara pralinguistik).
A.    Vokalisasi Dini
Menangis merupakan satu-satunya alat komunikasi bayi.Perbedaan dalam nada,pola, dan intensitas menandakan lapar,kantuk,atau kemarahan.Antara usia  6 minggu dan 3 bulan, bayi mulai mengeluarkan suara mendengkur tak jelas ketika mereka senang,menjerit, menggumam,dan mengeluarkan suara vocal seperti “aaah”.Pada sekitar usia 3 hingga 6 bulan,bayi mulai bermain dengan suara pembicaraan dengan menyesuaikan suara yang mereka dengar dari orang-orang sekelilingnya.
Berceloteh adalah pengulangan konsonan dan untaian vokal seperti “ma—ma” terjadi antara usia 6 dan 10 bulan dan sering disalahkaprahkan sebagai kata pertama bayi.
Celoteh bukanlah kata pertama dari bayi karena tidak membawa makna bagi bayi tersebut tetapi hanya mirip dengan kata-kata yang ada.

B.     Mengenal Bunyi Bahasa
Kemampuan mempersepsi perbedaan antara sebagai suara sangatlah penting bagi perkembangan bahasa.Dalam persiapan memahami dan menggunakan suara,bayi awalnya memfamiliarkan dirinya dengan suara berbagai kata dan frasa dan nantinya mengaitkan makna.
Proses ini ternyata sudah dimulai sejak bayi terdapat dalam kandungan.Dalam sebuah eksperimen, dua kelompok wanita Paris di kehamilan ke 35 minggu masing-masing membacakan dua ritme kanak-kanak yang berbeda selama tiga kali sehari selama 4 minggu.Pada akhir periode,peneliti memutarkan rekaman kedua ritme kanak-kanak dekat ke abdomen para ibu.Detak jantung fetus melambat ketika rima yang dibacakan ibu mereka diputarkan tapi tidak pada rima yang satu lagi.Karena suara di rekaman bukan suara ibu mereka,dapat disimpulkan  bahwa janin ternyata merespons terhadap bunyi yang digunakan oleh ibu mereka.Ini menunjukkan bahwa mendengar “lidah ibu” sebelum lahir dapat “menyetel” telinga bayi untuk mendengar suara.
Dalam serangkaian penelitian lain berdasarkan waktu mendengar,bayi berusia 9 bulan tampaknya mencerna pola suku kata dan pelafalan dari konsonan inisial serta mengaplikasikan pola tersebut pada kata baru yang sesuai atau yang salah pada pola tersebut.

C.    Isyarat
Antara 9 dan 12 bulan,bayi telah belajar beberapa isyarat sosial secara konvensional seperti melambai selamat tinggal,menganggukkan kepala yang berat dan menggelengkan kepala untuk menandakan tidak.Pada usia 13 bulan,bayi menggunakan isyarat representasional, contohnya ia mengangkat cangkir kosong ke mulutnya untuk menunjukkan ia ingin minum atau mengangkat tangannya untuk menunjukkan bahwa ia ingin digendong.
      Isyarat simbolis, seperti meniup untuk panas, atau mengendus untuk bunga, sering muncul pada waktu yang sama dengan bayi mengucapkan kata pertama mereka dan berfungsi sangat mirip dengan kata.Dengan hal tersebut, anak menunjukkan pemahaman bahwa simbol dapat merujuk pada berbagai objek,kejadian,keinginan,dan kondisi spesifik.Isyarat biasanya muncul sebelum anak memiliki sebanyak 25 kosakata dan berkurang ketika anak menemukan kata untuk ide yang mereka gesturkan dan bisa mengucapkannya.
Dalam sebuah eksperimen,bayi berusia 11 bulan mempelajari isyarat dengan cara mengamati orang tua mereka memperagakan kata korespondensi kepada mereka.Antara 15 dan 36 bulan, ketika perkembangan bahasa vokal diuji,anak-anak ini melampaui dua kelompok lain-kelompok satu,yang orang tuanya hanya mengucapkan kata,dan kelompok lain,yang tidak mendapatkan latihan vokal maupun isyarat.

D.    Kata Pertama
Rata-rata bayi mengucapkan kata pertama antara usia 10 dan 14 bulan,memulai bicara linguistic—ekspresi verbal yang berati makna.Awalnya total kosakata anak hanya “mama” atau “dada”.Bisa pula,kosakatanya mungkin hanya suku kata sederhana yang memiliki lebih dari satu makna,bergantung pada konteks di mana anak mengucapkannya, ”Da” mungkin berarti “Saya ingin itu”, ”Saya ingin ke luar”, atau “Apa yah?” kata-kata tersebut yang mengungkapkan pikiran disebut holofrasa.
Antara usia 16 dan 24 bulan,”ledakan penamaan” diduga terjadi.Dalam beberapa minggu,anak mungkin bergerak dari mengucapkan 50 hingga 400 kata.Pemerolehan yang cepat dalam pengucapan kosakata ini dapat mencerminkan peningkatan kecepatan dan akurasi pengenalan kata sepanjang usia dua tahunnya.
Namun demikian,dalam sebuah penelitian longitudinal terhadap 28 anak AS, hanya 5 orang yang menunjukkan peningkatan yang pesat dalam pembelajaran kosakata, menunjukkan bahwa gejala ini tidak bersifat universal.
                                   
E.        Kalimat Pertama
Kalimat pertama anak biasanya berhubungan dengan kejadian,orang,atau aktivitas sehari-hari.Darwin memperhatikan khusus berbagai contoh di mana Doddy mengekspresikan pemahamannya terhadap makna moral dalam kata.Pada usia 27 bulan,sang putra memberikan adik perempuannya sisa roti jahenya, sambil berseru, “Oh, Doddy baik, Doddy baik!”
Awalnya anak biasanya menggunakan bicara telegrafik terdiri atas hanya sedikit kata esensial.Seperti ketika Rita mengucap, “Nek dur”, sepertinya yang ia maksud adalah “Nenek sedang tidur di lantai”. Penggunaan anak terhadap bicara telegrafik,serta bentuknya,variasinya,bergantung pada bahasa yang sedang dipelajarinya.Urutan kata umumnya mengikuti sesuai dengan yang didengar anak.Diantara usia 20-30 bulan, anak menunjukkan kompetensi dalam syntax (aturan merangkai kata dalam bahasa tertentu), mereka akan semakin nyaman dengan artikel (a, the), preposisi (di, pada), kata sambung (dan, atau), kata jamak, kalimat bentuk lampau. Pada usia 3 tahun, bicaranya sudah lancar, semakin panjang dan semakin kompleks, walaupun ada bagian dari percakapan yang dihilangkan, mereka dapat mengomunikasikan maknanya dengan benar.
2.3.2Karateristik Bahasa Awal
Bahasa awal memiliki karakteristik tersendiri, apapun bahasa yang digunakan anak.Seperti telah kita lihat,anak menyederhanakan.Mereka menggunakan bicara telegrafik untuk secukupnya menyampaikan makna seperti “Susu tidak minum”.
Anak memahami hubungan gramatikal yang mereka belum mampu ungkapkan.Awalnya,Nina mungkin mengerti bahwa seekor anjing mengejar  kucing,tapi ia tidak dapat merangkai cukup kata untuk mengungkapkan tindakan secara lengkap.Kalimat yang mungkin keluar “Kucing dikejar” bukan “Anjing mengejar kucing”.
Anak mempersempit makna kata. Bibi Butet memberinya sebuah mobil, Butet yang pada saat itu berumur 13 bulan menyebutkan bahwa mobil tersebut adalah “mo-mo” kemudian ayah Butet pulang dengan memberinya sebuah mobil-mobilan dan berkata “Lihat Butet ini ada mainan mobil untuk kamu”, Butet menggeleng dan mengatakan “mo-mo”,  ucapnya dan menunjukkan mobil-mobilan yang diberi oleh bibinya.
Anak memperluas makna kata.Butet melihat wanita yang telah tidak memiliki gigi di televisi dan berteriak “Nenek”.Butet menggeneralisasi berlebihan, atau memperluas kata,ia mengira bahwa karena neneknya ompong,semua wanita yang ompong adalah neneknya. Cara mengatasi hal tersebut adalah mendapatkan perhatian dari orang tua dengan menyebutkan bahwa wanita yang ada dalam televisi tersebut hanya mirip dengan neneknya tapi bukan nenek si Butet.
Anak lebih mengetatkan aturan.Mereka mengaplikasikannya dengan kaku,tidak mengerti bahwa beberapa aturan memiliki pengecualian.Ketika Delilah,melihat ke luar jendela dengan ayahnya pada hari mendung,mengatakan “Berangin…Berawan…..berhujan…”ini menunjukkan kemajuan.Setelah anak itu belajar aturan bentuk kata jamak dan kata yang menunjukkan masa lalu, barulah mereka mengaplikasikannya secara universal, biasanya terjadi pada masa awal sekolah.

2.3.3Teori Klasik Pemerolehan Bahasa:Debat Nature-Nurture
Skinner (1957) bersikeras bahwa pembelajaran bahasa,seperti pembelajaran yang lain,didasarkan pada pengalaman.Menurut teori pembelajaran klasik,anak mempelajari bahasa melalui operant conditioning.Awalnya,bayi menuturkan kata secara acak.Pengasuh mempertegas suara yang muncul mirip bicara orang dewasa dengan senyum,perhatian,dan pujian.Kemudian, bayi mengulang kata-kata yang dipertegas tersebut.Suara-suara yang bukan bagian dari bahasa natif tidak dipertegas.Sedangkan suara-suara yang tidak diberi penguatan akan berangsur hilang.
Pandangan Chomsky sendiri disebut nativisme.Tidak seperti teori pembelajaran skinner,nativisme menekankan pada peran aktif pembelajaran.Karena bahasa bersifat universal bagi manusia,Chomsky berpendapat bahwa otak manusia memiliki kapasitas bawaan untuk memperoleh bahasa, bayi belajar berbicara sealamiah mereka belajar berjalan.Ia berpendapat bahwa alat pemeroleh bahasa (Language acquisition device-LAD) bawaan memprogram otak bayi untuk menganalisis bahasa yang mereka dengar dan untuk menemukan aturan-aturannya.Baru-baru ini,Chomsky (1995) mengidentifikasi satu set sederhana prinsip universal yang mendasari semua bahasa,dan satu mekanisme multitujuan untuk menghubungkan suara ke makna.

2.3.4Pengaruh terhadap Perkembangan Bahasa Awal
Faktor Neurologis
Pertumbuhan dan penataan ulang yang mengagumkan semasa awal bulan dan tahun, pertumbuhan anak dikaitkan  sangaterat dengan perkembangan bahasa. Tangisan bayi yang baru lahir dikendalikan oleh batang otak dan pons,bagian otak yang paling primitivedan paling dahulu berkembang (rujuk kembali).Celoteh yang berulang-ulang mungkin muncul dengan maturasi dari bagian korteks motorik yang mengendalikan gerakan wajah dan tenggorokan.Pada tahun kedua motorik menjadi matang.Wilayah kortikal yang berkaitkan dengan bahasa terus berkembang hingga paling tidak masa prasekolah akhir atau lewat-beberapa bahkan ketika masa dewasa.
Interaksi social:Peran Orang Tua dan Pengasuh
Bahasa merupakan tindakan sosial.Orang tua dan pengasuh memiliki peran yang sangat penting dalam tiap tahap perkembangan bahasa.
Berikut tahap-tahap tersebut:
Ø  Periode Pra-linguistik
                          Pada tahap berceloteh,orang dewasa membantu anak berkembang ke arah bicara yang utuh dan benar dengan mengulang-ulang suara yang dikeluarkan bayi.Bayi  kemudian ikut bermain dan mengulang kembali suara tersebut.Imitasi oleh orang tua terhadap suara bayi memengaruhi kecepatan pembelajaran bahasa.

Ø  Perkembangan kosakata
                          Bayi belajar dengan mendengarkan hal yang diucapkan oleh orang dewasa.Ketika bayi mulai berbicara,orang tua dan pengasuh sering membantu mereka dengan mengulang kata pertama mereka dan melafalkannya secara benar.Kosakata bertambah cepat ketika orang dewasa menggunakan peluang yang tepat untuk mengajarkan kata baru kepada anak.
                          Anak yang dibesarkan dalam lingkungan dengan dua bahasa sering kali menggunakan berbagai elemen dari kedua bahasa,kadang dalam ucapan yang sama gejala yang disebut pencampuran kode (code mixing).Namun hal ini tidak berarti bahwa mereka bingung terhadap kedua bahasa.Kemampuan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain disebut pertukaran kode.

Child-Directed Speech
              Ketika anda berbicara dengan bayi atau anak anda,jika anda berbicara dengan perlahan dalam intonasi yang tinggi dengan nada tinggi dan rendah yang berlebihan, berbicara sederhana, melebih-lebihkan suara vocal,penggunaan berbagai kata dan kalimat pendek serta banyak pengulangan,anda sedang menggunakan child-directedspeech—CDS.Kebanyakan orang dewasa dan bahkan anak-anak melakukannya secara alamiah yang sering disebut dengan cara bicara “Kebayi-bayian”.Banyak peneliti yang mempercayai bahwa CDS membantu bayi dan anak-anak dalam mempelajari bahasa native mereka.

2.3.5Mempersiapkan Literasi:Keuntungan Membaca Lantang
                          Bagi bayi dan anak,membaca memberikan peluang keintiman emosional serta membina komunikasi antara mereka dengan orang tua.Frekuensi orang tua atau pengasuh dalam membaca serta cara mereka melakukannya dapat memengaruhi perkembangan literasi,kemampuan membaca dan menulis pada bayi.Anak yang belajar membaca sejak dini biasanya adalah mereka yang orang tuanya sering membacakan  untuk mereka ketika mereka masih kecil.
BAB III
PENUTUP
      3.1 KESIMPULAN
Penyusun menarik kesimpulan bahwa perkembangan awal pada 3 tahun pertama sangat penting karena pada tahap ini sangatlah kursial dalam pembentukan kecerdasan,kepribadian serta perilaku-perilaku yang penting untuk perkembangan selanjutnya dalam beradaptasi terhadap lingkungan sekitar.Apabila pada tahap ini terganggu maka ditakutkan perkembangan pada anak-anak atau bayi tidak berjalan sebagaimana mestinya dan yang paling fatal adalah ke-tidak kemampuan dalam menggunakan proses kognitif secara baik atau yang disebut “cacat”,begitu pula dengan halnya perkembangan bahasa yang mana apabila terganggu maka dapat menimbulkan masalah tentang perkembangan bahasa dengan anak tersebut seperti keterlambatan bicara.Untuk itu diperlukannya perhatian dari orang tua atau pengasuh dalam hal menstimulus perkembangan anak-anak atau bayi dengan baik dan benar.
Akhir pra-kata,setelah mendalami atau mempelajari “Perkembangan Kognitif pada 3 Tahun Pertama” diharapkan pembaca mampu memahami atau setidaknya menguasai dari materi-materi yang telah disampaikan dengan baik.
 Daftar Pustaka
Ø  Papalia,Diane E, dkk. 2007. Human Development 10th edition. New York: McGraw-Hill.

Ø  Lahey,  Benjamin B. 2007. Psychology An Introduction. New York: McGraw-Hill.

0 comments:

Posting Komentar