Rabu, 13 November 2013 9 comments By: Muthia Audina

KARYA KREATIF PRIBADI



"CAHAYAKU"

Ada beberapa huruf yang jika digabungi akan membentuk makna yang sangat dalam, makna yang kadang membuat kita untuk berpikir, makna yang menjadikan kita bangga akan diri sendiri, makna yang selalu menguatkan kita dalam hal apapun, makna yang memberanikan kita untuk berteriak “ya ini aku”, makna yang mengajari kita untuk menyebarkan cinta, makna “karena mereka aku ada, atas izin Allah”,  dan banyak sejuta makna lagi yang ada di dalam tubuhnya.
Dan beberapa huruf itu adalah...Kamu tahu apa? Mereka tersusun dari delapan huruf, yang perannya dalam kehidupan sangat penting, huruf yang delapan itu ibarat sebuah pondasi dalam pembangunan. Hal yang paling penting dalam membangun rumah, gedung, kantor, atau apapun itu adalah pondasinya. Seberapa lama suatu bangunan bertahan untuk berdiri di dunia, kita bisa mengestimasinya dari seberapa kuat pondasi bertahan. Mereka itu, delapan huruf yang tidak akan pernah dapat tergantikan dengan apapun itu, yang tak bisa dicangkok-cangkok dengan delapan huruf lainnya.
Delapan huruf itu adalah KELUARGA. Suatu hal, yang sering kadang membuat kita marah, tetapi, lebih sering sekali menciptakan sebuah senyuman di wajah kita, yang membuat bibir ini tersungging kalau pikiran ini terlintas pada mereka. Yang juga sering menangis sembunyi-sembunyi kalau penyakit rindu menghampiri saat jarak memisahkan, yang hati ini sangat sensitive kalau lagi ada pembicaraan atau topik-topik dalam suatu forum tentang mereka, yang selalu menjadi pertanyaan awal saat sampai di rumah, “mama dimana?”, walaupun sangat jarang ditanya, “ayah mana?”, tetapi kalau lagi butuh alat tukar-menukar, pasti yang dicari adalah ayah. Mereka itu nomor satu dalam hidup, pengisi terbanyak dalam relung hati. Wanita tercantik di dunia akhirat dan pria tertampan di dunia akhirat (In sya'a Allah).
Wanita yang selalu kuat dalam memanage masalah, apapun itu. Yang akan selalu menyimpan air matanya jika sakit yang dirasanya masih bisa tertahankan, yang mempertaruhkan nyawanya untuk seorang manusia, yang dengan setianya membawa-bawa, kesana-kemari kandungannya selama sembilan bulan. Yang selalu memberikan formula terbaik untuk anak-anaknya. Yang masih bisa memberikan senyuman termanis saat dia telah melewati operasi sekalipun untuk kelahiran anaknya. Yang mempunyai seratus juta cara dalam mendiamkan tangisnya anak-anak. Wanita yang rela melakukan sesuatu demi melihat kesuksesan anak-anaknya. Yang jasa-jasanya tak akan bisa kita listkan satu persatu dalam tumpukan lembaran kertas.
Ada saat dimana hati ini selalu bergetar, mata ini selalu panas dan tiba-tiba berair kalau mengingat event-event terindah saat bersamanya, wanita itu. Sebenarnya kejadian itu adalah duka buat keluarga kami, tetapi di hati ini, event itu  tersimpan dalam bingkai terindah saat bersamanya. Saat keluarga kami benar-benar diuji keimanannya oleh Sang Pencipta. Entah mengapa, ketika itu kakak berbohong kepada wanita itu, saya juga. Padahal yang harus tahu pertama kali adalah dia, dia adalah ibunya, berhak tahu apapun yang terjadi pada anak-anaknya.
Ketika itu saya masih bersekolah setingkat SMA, di kota kelahiran. Ibu, saya, dan adik-adik saya yang selalu meramai-ramaikan rumah saat itu. Dua kakak sedang berjuang meraih kesuksesan di kota metropolitan nomor empat di Indonesia, kebetulan mereka bertempat tinggal di rumah nenek. Nyaris kami benr-benar dibohongi satu harian oleh mereka. Kejadian itu bertepatan pada saat marah ini sedang memuncak pada ibu (paginya). Masih kuat memori ini untuk membuka lagi potret-potret kejadian itu.
19 Maret 2012, tepatnya senin subuh, kejadian yang jika ditanya kepada semua orang pasti menolak untuk tidak menghampiri, namun apalah daya, semua sudah disett oleh Allah, karena sebenarnya kita tak akan pernah belajar dari sesuatu yang sifatnya senang-senang. Cobaan itu adalah hal yang paling tidak mengenakkan dalam kehidupan ini, tetapi di dalam semua itu ada pelajaran-pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang pandai melihat cahaya dalam kegelapan. Cobaan itu sangat mengguncang kami, subuh itu ketika kakak yang pertama sedang memasak air di rumah nenek, entah apa yang membuatnya lupa bahwa kompor tersebut sudah tak ada lagi minyak (kosong), padahal ibu (adik perempuannya ayah) sudah memberi tahu hal itu. Begitulah takdir Allah, siapapun tak akan bisa menolaknya. Ketika kompor dihidupkan belum ada bereaksi apa-apa, selang menit berganti, saat panci air diangkat ke atas kompor, jeduarrr, nyala api besar memerah di dapur. Kakak jadi orang paling bodoh sedunia ketika itu, sanggup dia berlari lagi ke kamar untuk meyebarkan informasi bahwa dia terkena api besar, kepanikan yang terlalu besar. Padahal, kalau bisa disetting-setting kejadiannya supaya luka bakarnya tidak parah, kakak bisa saja langsung berlari ke kamar mandi yang berjarak 1 m dari dapur untuk memadamkan api dari tubuhnya. Tetapi sayang sekali, sekali lagi kita memang tak bisa bekuasa kuat untuk mengatur semua itu.
Kejadiannya subuh, dan kami yang berada di rumah, kota kelahiran, baru diberitahu sekitar pukul 20.00 WIB. Mungkin supaya ibu (mamak) tidak begitu panik, khawatir, takut. Apa? hal hasil? Ibu mana coba akan menghasilkan reaksi biasa saja saat mendengar anaknya ditimpah dengan hal yang begitu. Di situ ibu benar-benar tak menyembunyikan tangisnya dari saya, dia benar-benar menangis, menangis yang sesungguhnya. Saat itu saya mendapatkan moment terindah dalam hidup, yang tak akan tergantikan oleh cerita-cerita yang lain, apapun itu. Saya melihat air matanya. Dengan sendirinya air mata ini pun ikut terjatuh dalam pelukannya. “Keimanan kita sedang diuji mak, tak baek berprasangka buruk pada Sang Pencipta. Cobaan adalah rahmat, rahmat yang tak disukai rasanya oleh manusia, karna sesungguhnya bersama kesulitan datang kemudahan. Semua itu sebenarnya adalah proses jalan menuju kekuatan diri. Calm down mamakku sayang, don’t crying”
Pria yang sampai sekarang tak ada menandingi betapa luar biasanya dia di hatiku, sangat bercahayanya dia dimataku, sangat gagahnya dia jika berada di hadapanku, pria yang cintanya benar-benar sejati kepadaku, pria yang kadang-kadang tak bisa sama sekali menunjukkan sayangnya terhadapku, yang sangat besar tanggungjawabnya untuk menjagaku, yang melakukan segala cara untuk melihat kesuksesan-kesuksesan itu, yang selalu mencari anak-anaknya jika dia sampai di rumah, yang selalu dengan gemas mencium pipi keningku.
Pria itu tetap di sini, tetap hidup di hati ini, di sini, dekat denganku, walau hanya 8 tahun bisa membalas ciuman yang selalu melesat di wajahku. Pria itu tetap dekat, selalu ada selama-lamanya bersemi di hatiku. Tetap menjadi pria numero uno di dalam relung hati.
Pria itu adalah ayahku. Satu-satunya yang akan menjadi ayah selama-lamanya dalam hidup. Semua yang dilakukannya biasa-biasa saja, tak banyak waktu yang diberikan padanya, namun sangat luar biasa menurutku dan tetap kekal di hati ini. Yang hanya terbayang dari dia adalah ciumannya yang sering melekat lamat-lamat dipipi, yang sampai sekarang aku masih merindukan ciuman sayang darinya, yang selalu intens dilakukannya.
Seseorang tidak akan mampu mengeluarkan apa-apa di dalam tulisannya, apabila apa-apa yang ingin dikeluarkan itu tak pernah dialaminya secara konkret, karena mungkin kita tak pernah menjadi sesuatu tanpa kita pernah mengalami (kenyataan)-nya.
 “Salam rindu selalu buat ayah, tetap tersenyum di sana ya yah. Salam kangen buat mamak, tetap kuat yaa mak”.  Jarak tak akan mengubah segalanya, tidak akan mengubah rasa dari Allah ini.
Kau begitu berarti, sungguh sangat berarti, kesempurnaan cinta yang kau beri. Aku menyayangimu dalam senyum dan tangisku dan aku mencintaimu dalam hidup dan matiku.

Terimakasih atas waktu dan pikiran yang telah disisihkan untuk  membaca tulisan saya. Semoga selalu ada pelajaran yang didapat dari sesuatu, apapun itu. 
Selasa, 12 November 2013 0 comments By: Muthia Audina

PEMBELAJARAN DAN TEKNIK KREATIF

1. Kurikulum Berdiferensiasi untuk Siswa Berbakat

Kurikulum berdiferensiasi bertujuan memberi pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan intelektual murid. Nah, apa sebenarnya makna yang sesungguhnya tentang kurikulum berdiferensiasi ini bagi siswa yang berbakat, jawabnya adalah untuk menumbuhkan rasa keberhasilan, kepuasan, dan tantangan, menjadikan siswa aktif, tidak merasa bosan di sekolah, dan dengan itu juga dapat menghindari underachievement pada anak tersebut.

Bagi siswa berbakat, ada empat faktor yang perlu dimodifikasi agar mereka memperoleh pembelajaran yang sesuai, yaitu:
  • lingkungan belajar
  • Konten pembelajaran
  • Proses atau metode pembelajaran
  • Proses belajar siswa
Sains, matematika, bahasa, dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang dianggap perlu ada pendekatan yang maksimal dalam mengajarkannya kepada siswa-siswa berbakat.

Sains dan matematika amat penting dalam pendidikan siswa saat ini dan memerlukan pengembangan yang secara terus menerus. Memenuhi kebutuhan siswa berbakat dalam sains dan matematika sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat dan individu.

bahasa tidak hanya merupakan alat asosiasi, tetapi juga sebagai dasar perkembangan kecerdasan. Pembelajaran bahasa di sekolah-sekolah menengah menekankan pada pengembangan keterampilan pengarahan diri, skill kreatif-produktif, abstraksi dan pemikiran tingkat tinggi, serta melibatkan isu dan tema dalam prestasi bahan dan materi.

Dalam pembelajan IPS untuk siswa berbakat, menekankan adanya keterlibatan siswa dalam memberikan sumbangan orisinal terhadap masyarakat serta menjadi waraga yang bertanggung jawab. pembelajaran IPS untuk siswa berbakat mengambil tema yang luas, seperti memahami dan mengakui saling ketergantungan global.

2. Model Belajar Mengajar Kreatif

Banyak model belajar mengajar yang dapat digunakan pada siswa pada umumnya dan khususnya bagi siswa berbakat di dalam kelas. Ada delapan model belajar mengajar kreatif, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Untuk kurikulum komprehensif, model-model dapat digabungkan untuk tujuan tertentu saja. Pembelajaran akan sangat berhasil jika kita mengetahui model mana yang paling penting digunakan.

TAKSONOMI / MODEL
BAGIAN PSIKOLOGI/RANAH
KREATIVITAS
Bloom
Kognitif
Sintesis
Guilford
Kognitif
Berpikir divergen
Taylor
Kognitif
Bidang kreatif-produktif
Treffinger
Kognitif-Afektif
Ketiga tingkat pengembangan kreativitas
Renzulli
Kognitif-Afektif
Tiga tipe pengayaan
Williams
Kognitif-Afektif
Dimensi  strategi mengajar guru dan perilaku siswa
Krathwohl
Afektif
Ciri afektif dari kreativitas
Clark
Kognitif-Afektif
Perpaduan antara pemikiran, perasaan, pengindraan, dan firasat
3. Teknik dan Pemecahan Masalah secara Kreatif

Teknik-teknik kreatif akan dipaparkan di bawah ini digolongkan menurut tiga tingkatan dari Treffinger.

  1.  Teknik tingkat I
Dimaksudkan untuk merangsang berpikir divergen, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan adanya keterbukaan terhadap gagasan baru serta kepekaan terhadap masalah.

Teknik tingkat I sering dikenal sebutannya sebagai teknik sumbang saran. Nah, teknik ini memiliki 4 aturan dasar, yaitu:
  • kebebasan dalam memberikan gagasan
  • tidak boleh memberikan kritik pada tahap pencetusan gagasan
  • penekanan pada kuantitas
  • kombinasi atau pengembangan gagasan
2. Teknik tingkat II

Melatih proses-proses pemikiran yang lebih majemuk, seperti yang dituntut pada teknik synectic dan futuristic.
  • teknik synectic, melatih siswa untuk berpikir berdasarkan analogi dalam pemecahan masalah, siswa diperkenalkan dalam penggunaan anologi fantasi, anologi langsung, dan anolgi pribadi.
  • teknik futuristic, membantu siswa untuk mengantisipasi dan mencipta masa depannya dengan cara menulis skenario, menggambarkan roda masa depan, dan trending yang menggunakan pertanyaan untuk mengidentifikasi kecenderungan yang ada dan yang akan timbul.
3. Teknik tingkat III

Menghadapkan siswa pada tantangan dan masalah nyata. Ada dua pendekatan dalam teknik tingkat III ini, pendekatan pertama adalah pemecahan masalah secara kreatif (PMK), yang meliputi lima tahap. yakni:
  • menemukan fakta
  • menemukan masalah
  • menemukan gagasan
  • penemuan sosial
  • menemukan penerimaan atau tahap pelaksanaan 
Pendekatan kedua adalah Shallcross yang membedakan antara primary crativity dengan secondary cerativity, menyuguhkan lima tahapan juga, yaitu:
  • orientasi
  • persiapan
  • penggagasan
  • penilaian
  • pelaksanaan atau implementasi.

sumber: 
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Jumat, 08 November 2013 0 comments By: Muthia Audina

KONSEP PERFORMA KREATIF KELOMPOK


Kelompok 3
Livi Yohana 121301002
Eka Sartika 121301007
Muthia Audina 121301029
Permata Ismawarni Putri 121301030

Teori Wallas merupakan salah satu teori tentang proses kreatif. Teori Wallas yang dikemukakan tahun 1926 dalam buku The Art of Thought (Piirto,1992) menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu :
1. Persiapan
2. Inkubasi
3. Iluminasi
4. Verifikasi

Pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Kami dalam merancang konsep performa kreatif kelompok telah melewati tahap ini. Di awal saat menerima kontrak kuliah, kami sudah memikirkan akan mempersembahkan penampilan seperti apa dan bagaimana.


Pada tahap kedua, kegiatan mencari data atau informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi adalah tahap di mana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi "mengeramnya" dalam alam pra sadar. Kami juga telah melewati tahap ini. Pada saat itu, kami sibuk dengan tugas individu masing-masing dan melupakan sejenak mengenai konsep performa yang ingin kami tampilkan nantinya.


Tahap iluminasi adalah tahap timbulnya "insight", timbulnya inspirasi atau gagasan baru, serta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru tersebut. Tahap ini terjadi pada kami saat sekita seminggu menjelang UTS. Saat itu, muncullah kesepakatan inspirasi mengenai konsep performa kreatif yang akan kami tampilkan.


Tahap terakhir yaitu tahap verifikasi atau tahap evaluasi. Pada tahap ini, ide atau inspirasi kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Kami akan menuju tahap ini dan akan melewati tahap ini saat kami telah menampilakan performa kreatif kelompok di kelas Kreativitas nanti.


Tujuan dan Manfaat Pembuatan Karya Kreativitas
• Memberikan pesan moral yang tidak menggurui dengan cara yang lebih akrab.
• Sebagai media untuk mengekpresikan kreativitas kelompok.
• Sebagai pembelajan untuk mengembangkan kreativitas.

Perencanaan:
Banyak sekali kita liat sekarang fenomena yang terjadi di sekitar kita, mulai dari yang sudah berumur, belum berumur, atau sedang berumur tidak mengindahkan segala peraturan yang telah ditetapkan. Kita liat saja di jalanan sekarang sudah bagaimana? Semberautnya sudah tidak bisa di deskripsikan lagi, salip sana, salip sini, jalan terus walaupun lampu di pinggiran jalan menyala merah meriah, tidak jarang yang sengaja menghidupkan bunyi klakson pada saat si merah itu muncul. Nah, mungkin untuk menyadarkan betapa pentingnya tata tertib ketika kita sedang berada di jalanan adalah dengan cara menyuguhkan sebuah tontonan yang ringan tetapi berpesankan moral yang jauh dari sifat menggurui.
Kami akan mempersembahkan sebuah performa kreatif berupa drama singkat yang bertemakan “Ugal-ugalan Membawa Derita”. Di sini kami merancang konsep sebagai berikut:

• Permata Ismawarni Putri sebagai pengemudi motot
• Livi Yohana sebagai pengemudi motor
• Eka Sartika sebagai rambu lalu lintas
• Muthia Audina sebagai polisi lalu lintas

Rangkaian drama yang akan kami tampilkan adalah:
Ada dua orang anak muda dengan gaya “sok keren” tidak mematuhi peraturan lalu lintas dan tidak memakai atribut yang lengkap. Kemudian, ada seorang polisi lalu lintas yang sedang berjaga, polisi tersebut memperingatkan mereka dan hendak menilang motor mereka, tetapi mereka melarikan diri. Ketika mereka kebut-kebutan dalam melarikan diri tiba-tiba saja mereka kecelakaan. Di akhir cerita polisi akan memberikan pesan moral kepada audience.

Nah, apa saja bahan yang akan kami gunakan?
Kami akan memakai kostum yang tidak biasanya (misalnya: orang yang naik motor memakai baju yang tidak biasa, polisi dsb), semua wajah aktor akan ditutup dengan kardus yang berbentuk wajah lucu dan ada yang menjadi rambu lalu lintas.





Minggu, 27 Oktober 2013 0 comments By: Muthia Audina

TESTIMONI UJIAN TENGAH SEMERTER (UTS) ONLINE

Teman-teman pernah tidak membayangkan ujian yang dilaksanakan secara online? Wah, jika tidak. Ayo coba disaranin kepada gurunya untuk membuat ujian kamu dengan bantuan jaringan internet. Pasti pertanyaan selanjutnya setelah saya menyarankan seperti itu adalah "memang bagaimana rasanya kalau ujiannya online?" Wah, tidak akan ada rasanya jika tidak dirasa sendiri :) makanya, yuk pantengin terus sampai habis tulisan saya supaya agak tergugah dan penasaran sama apa yang saya rasakan.

Semua ini berawal dari dialog antara dosen mata kuliah Kreativitas dengan mahasiswa/i (tentu saja yang mengambil mata kuliah Kreativitas), tertanggal 24 Oktober 2013, tepatnya Kamis pagi. Nah, di hari itulah ditanyakan kepada kami semua (mahasiswa mk. Kreativitas), "metode apa yang kalian inginkan untuk UTS?"
Saya sontak (entahlah semuanya begitu atau tidak). Dengan tidak sengaja bicaralah hati nurani ini "mak, enak kali ujian bisa milih"
Lantas dialog pun semakin aktif (tetapi tidak sampai panas), ada sekitar belasan mahasiswa yang memilih ujian indoor, dan belasan mahasiswa memilih agar ujian outdoor. Hanya beda satu orang, tetapi ujian outdoorlah yang menang. Saya pun ber"hah dan yaa" dengan wajah ditekuk.

Akhirnya kesepakatan di atas mufakat telah diputuskan, yaitu ujian online dengan 3 soal essai kemudian waktu tenggang selama 3 hari.

Soal pertama langsung diberikan pada hari kamis itu juga, tetapi apalah daya yang tidak dapat mengalahkan rasa malas ini, saya tidak langsung mengerjakannya. Saya baru mengerjakan soal pertama di sore hari sekitar jam 16.00, kamu tahu teman berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk saya dapat menyelesaikan soal pertama? kalau saya tidak salah, ada 6 jam saya memikirkan, merangkai, membaca untuk merampungkan kata-kata menjadi kalimat sehingga selesailah saya menjawab soal pertama tersebut. Saya pun mengutuk diri ini, andai langsung dikerjakan tak seperti ini jadinya.

Setelah soal pertama telah usai saya kerjakan, sekitar pukul 02.00 AM (lebih kurang), saya mendapatkan soal kedua. Saya baca. Saya renungi kembali jawaban saya pada soal pertama. Jadi teman, soal pertama dengan soal kedua berkaitan (mungkin juga dengan nomor 3, pikirku). Saya langsung buru mengerjakan soal kedua, ternyata berstatus sama dengan nasib soal pertama, saya tetap menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk menyelesaikannya.

Soal ketiga pun saya terima, saya kerjakan dengan penuh semangat juang, ibarat pujungga memperjuangkan cinta sejatinya, apapun akan dilakukan. Alhamdulillah malam minggu selesai juga ujian mata kuliah Kreativitas.

Nah, setelah selesai semua soal saya kerjakan. Saya merenung sejenak, banyak sekali manfaat yang saya dapat dari ujian online ini. Mulai dari soal pakaian yang seharusnya pakai hitam putih, karena ujiannya online kita bisa bebas, mau tiduran, duduk tegak, menyandar dan hal-hal yang tidak memungkinkan kalau sedang ujian formal pada biasanya, tidak perlu seribet jika kita menghadapi ujian pada umumnya. Kemudian teman, jangan pernah takut kalau model soal ujiannya adalah essai, kenapa? karena soal essai dapat mengembangkan kreativitas, benar yang dibilang dosen pengampu mk. Krativitas, saya dapat bersemangat mengekspresikan jawaban-jawaban dengan penalaran da dibantu dengan buku pegangan. Kemudian saya berpikir lagi, bagaimana mungkin saya akan mengerjakan soal ujian dengan waktu yang berjam-jam jika ujiannya dilaksankan di dalam kelas. Syukurlah, ujiannya dilaksanakan di luar kelas, diberi waktu selam 3 hari. Memang luar biasa manfaat yang saya terima dari pengalaman pertama ujian online ini. 
Mungkin pengganggu selama ujian online adalah jaringan yang semberaut sama seperti jalanan macet, jadi lelet. Tetapi,tetap bersyukur juga, karena tidak via blog, melainkan email.

Pribadi yang dapat mengaktualisasikan diri adalah seseorang yang sehat mental, dapat menerima dirinya, selalu berinovasi, berfungsi secara total, berpikir demokratis serta kritis, dan sebagainya (Rogers Maslow).

Press yang peroleh dari eksternal, karena ujian adalah kewajiban, maka saya mengerjakannya prosedur ujian dengan syarat yang telah disepakati, dari dalam saya mendapat dorongan agar menghasilkan point-point cicilan nilai yang bagus untuk nilai akhir nanti, maka dari itu saya bersungguh-sungguh mengerjakan UST ini. 

Benar sekali yang dikatakan oleh Wallas (1926) bahwa ada tahapan proses dalam pembuatan ide kreatif, yaitu:
  • · Tahap persiapan, Saya mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban.
  •  Inkubasi, Kegiatan mencari dan  menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan, saya berhenti sejenak, tetapi tidak lepas dari berpikir hal apa yang saya akan paparkan dalam jawaban saya.
  •   Iuminasi, Tahap timbulnya “insight” atau “Aha-erlebnis”, saat timbulnya inspirasi atau gagasan baru. Akhirnya saya dapat ide.
  •   Verifikasi, Tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas, karena kejadian itu benar-benar saya alami, jadi saya dengan mudah menulis ulang.

nah, hasil akhir adalah saya dapat mengerjakan ujian dengan tepat waktu dan tentu pula jawaban yang saya paparkan tepat (menurut saya).

oke, UJIAN online (pertama kali)ini keren dan banyak manfaatnya.
Rabu, 23 Oktober 2013 0 comments By: Muthia Audina

PERANAN LINGKUNGAN DALAM MENGEMBANGKAN KREATIVITAS ANAK

Menurut Arieti (1976 dalam Munandar) mengemukakan beberapa faktor sosiokultural yang creativogenic yakni:
·        Tersedianya sarana-prasarana kebudayaan
·        Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
·        Penekanan pada becoming tidak hanya pada being
·        Memberikan kesempatan terhadap  media kebudayaan bagi semua warga negara
·         Mengahargai rangsangan dari kebudayaan yang berbeda
·        Toleransi dan minat terhadap pandangan divergen
·        Interaksi antara pribadi yang berarti
·        Adanya penghargaan

Dengan adanya usaha untuk menciptakan point-point di atas di dalam lingkungan, maka kita selaku individu yang ingin membentuk dan mengembang kreativitas akan lebih mudah berproses untuk mencapai itu.

Mochtar Lubis (1983) menegaskan bahwa salah satu persyaratan utama bagi berkembangnya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan.
Pendidikan formal, adanya model peran, fragmentasi politis, keadaan perang, gangguan sipil, Zeitgeist, dan ketidakstabilan politis adalah bagian-bagian yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kreativitas anak menurut Simonton (1978).
Menurut Selo Soemardjan, kemampuan kreatif seseorang tidak pernah lepas dari pengaruh kebudayaan dan masyarakat yang mengelilinginya. Timbul, tumbuh, dan berkembangnya suatu kreasi yang diciptakan oleh individu tidak luput dari pengaruh masyarakat dimana individu itu hidup dan bekerja. Di samping itu peranan teknologi dalam suatu kebudayaan juga dapat membatasi atau meluaskan kreativitas. Teknologi yang sudah mencapai tingkat perkembangan yang tinggi membuka kemungkinan yang luas untuk kreativitas bisa timbul dan berkembang dalam suatu masyarakat.
          Menurut Senada dan Carl Roger salah satu persyaratan utama bagi berkembangnya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan ( berfikir, mencipta ) baik dalam bentuk vertikal maupun secara horizontal.

Peran masyarakat untuk memupuk bakat dan talenta siswa berbakat sudah semakin banyak ditemukan akhir-akhir ini seperti kursus, pelatihan, sanggar, dan sebagainya. Demikian pula untuk bakat dalam bidang psikomotor seperti olahraga dan bahkan sekarang sudah banyak ditemukan kursus untuk berbagai macam keterampilan seperti menjahit, memasak, kecantikan, dan sebagainya yang mengembangkan berbagai talenta. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan anak berbakat dapat terwujud  melalui berbagai bentuk kerja sama.


Rabu, 16 Oktober 2013 0 comments By: Muthia Audina

ANALISA DIRI TERHADAP PERAN KELUARGA, SEKOLAH, DAN MASYARAKAT DALAM PENGEMBANGAN KREATIVITAS


Lingkungan ekternal dan internal akan sangat cenderung mempengaruhi behavior dan kepribadian manusia, dengan kata lain nature dan nurture lah salah satu yang akan berperan dalam pembentukan kepribadian itu sendiri. Tidak hanya  behavior, lingkungan internal maupun ekternal, nature, dan nurture juga berperan aktif dalam pembentukan kreatifitas anak.  Lingkungan internal itu dapat berupa sesuatu yang berasal dari dalam individu sendiri, misalnya: motivasi internal, tanggungjawab dalam menyelesaikan suatu hal, sedangkan untuk lingkungan ekternal, yaitu lingkungan-lingkungan yang berada di luar pribadi (manusia) tersebut, misalnya: keluarga, sekolah, masyarakat, teman sebaya, dan sebagainya. Kemudian, nature merujuk kepada segala hal yang berbau genetika, pengaruh dari gen. Nurture sama dengan penjelasan seperti lingkungan eksternal, yaitu lingkungan sosial. Munandar (2009) dalam bukunya menuliskan bahwa kreativitas merupakan persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bilang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dan bekerja kreatif (creative thinking and working skills), dan motivasi intrinsik, dapat juga disebut motivasi batin (Intrinsic Motivation).
Dalam usaha pengembangan kreativitas anak, anak sebaiknya diberikan latihan pada keterampilan sesuai dengan bakat dan sesuai dengan apa yg diinginkan anak. Orang tua dan pendidik bertugas menciptakan iklim ataupun kondisi yang baik bagi pengembangan kreativitas anak dan memberikan sarana yang cukup. Dan juga dibutuhkan adanya motivasi intrinsik pada anak agar terwujudnya keberhasilan kreatif. 
Dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana peran lingkungan keluarga, sekolah, dan juga masyarakat atau pun teman sebaya dalam pembentukan dan pengembangan kreativitas sang anak.

PERANAN KELUARGA

     Dacey melakukan penelitian mengenai karakteristik keluarga yang kreatif. Terdapat beberapa kesimpulan dan karakteristik yang mempengaruhi kreativitas pada anak dari hasil studi tersebut, yaitu:
·        Faktor genetis VS Lingkungan
·        Aturan perilaku
·        Tes Kreativitas sebagai Prediktor Prestasi Kreatif Remaja
·        Masa kritis
·        Humor
·        Ciri-Ciri Menonjol Lainnya
·        Perumahan
·        Pengakuan dan Penguatan pada Usia Dini
·        Gaya Hidup Orang Tua
·        Trauma
·        Dampak dari Sekolah
·        Bekerja Keras
·        Dominasi Lateral
·        Perbedaan Jenis Kelamin
·        Penilaian Orang Tua Mengenai Kreativitas Anak
·        Jumlah Koleksi

     Gaya hidup dan penilaian orang tua terhadap kreativitas anak juga berpengaruh dalam perkembangan kreativitas . Serta kreativitas dapat berkembang dalam suasana non otoriter, yang memungkinkan individu untuk berpikir dan menyatakan diri secara bebas(Rogers, dalam Vernon , 1982).  
     Menurut Dacey, keluarga merupakan kekuatan yang penting dan merupakan sumber pertama dan yang paling utama dalam pengembangan kemampuan kreatif anak.
Amabile menyebutkan adanya faktor yang menentukan sikap orang tua secara langsung yang mempengaruhi kreativitas anak mereka, yaitu :
·        Kebebasan
Orang tua yang memberikan kepercayaan anak untuk bebas cenderung memiliki anak yang kreatif dibandingkan dengan orang tua yang tidak memberikan kebebasan.
  Kebebasan sendiri yang diterapkan oleh keluarga saya adalah bebas dalam memberikan pendapat, maksudnya adalah bebas dalam energi yang positif. Orang tua saya mengaplikasikan pola asuh otoritatif.


·        Respect
Orang tua yang percaya dan menghormati anak atas kemampuan yang dimilikinya cenderung memiliki anak yang kreatif.
Di dalam keluarga saya terdapat banyak kesempatan yang diberikan kepada saya atau saudara kandung yang lain untuk menggunakan imajinasi sendiri sehingga lebih dibebaskan untuk berkreasi. Orang tua saya sangat respect terhadap pilihan-pilihan yang diinginkan oleh anak-anaknya.

·        Kedekatan emosional yang sedang
Kedekatan emosional yang terlalu dekat dan yang bermusuhan sama-sama memiliki dampak yang buruk bagi perkembangan kreativitas anak. Kedekatan yang stabil atau setimbangan sangat berpengaruh pada pembentukan dan perkembangan kreativitas.
Kedekatan emosiaonal yang dijalin oleh orang tua saya adalah kedekatan emosional yang tidak terlalu dekat sekai, juga tidak terlalu jau sekali. Orang tua dengan saya saling melengkapi, ada saatnya saya yang harus mendekat, kemudian ada saatnya saya harus sepertinya sedikit menjauh, begitu juga sebaliknya dengan orang tua saya.

·        Prestasi, bukan angka
Orang tua anak kreatif menghargai prestasi anak bukan hanya sekedar nilai, melainkan prestasi dan imaginasi dari anak.
Orang tua saya sangat menaruh rasa penghargaan terhadap setiap produk kreativitas yang mampu saya ciptakan sekecil apapun itu meski tidak diberikan reward secara langsung, namun akan ada berupa ucapan-ucapan kebanggaan ataupun pujian. Orang tua saya akan lebih bangga ketika saya lebih mementingkan proses daripada hasil yang akan diraup. Proses yang nantinya memberikan pelajaran untuk bekal kehidupan.

·        Orang tua aktif dan mandiri
Orang tua yang aktif juga mandiri berpengaruh pada perkembangan kreativitas anak. Maksud dari mandiri ini adalah, mandiri dalam ekonomi, bertanggung jawab. Sedangkan aktif maksudnya adalah dapat memilah-milah mana yang baik buat anaknya, dan sesuatu yang buruk bagi anaknya.

·        Menghargai kreativitas
Anak akan cenderung melakukan hal kreatif jika diberikan dukungan dan dihargai atas apa yang akan dilakukannya.
Orang tua saya mengajarkan untuk selalu menghargai apa saja produk-produk yang dihasilkan oleh anak-anaknya, tetap menekankan pada proses bukan hasil.


Dari uraian saya mengenai bagaimana orangtua saya membantu mengembangkan kreativitas saya dapat dikatakan bahwa keluarga yang saya miliki sangat mendukung apa saja yang dapat memicu proses penciptaan produk kreativitas. Sesuatu yang ada pada seorang anak akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika dapat diarahkankan dan dituntun oleh lingkungan sosial yang paling dekat dengan si anak yaitu keluarga.



PERANAN SEKOLAH

Lingkungan sekolah adalah salah satu sarana yang juga tidak kalah pentingnya bagi anak, selain keluarga dalam membentuk dan  mengembangkan kreativitasnya. Di sekolah lah, peran guru menjadi sangat berguna dan tampak dengan jelas, juga akan berpengaruh pada proses pembentukan kreativitas itu sendiri. Guru mempunyai peranan yang besar tidak hanya pada prestasi pendidikan anak, tetapi juga pada sikap anak terhadap sekolah dan proses dalam belajar dan mengajar. Guru dapat menjadi model dari motivasi intrinsik siswa jika guru tersebut dapat menarik hati si anak dalam asyiknya belajar.


·        Sikap Guru
Sudah 13 tahun saya belajar di sekolah, dan entah sudah berapa guru yang telah saya temui, sikap yang ditampilkan para guru tersebut beragam, tidak ada satu pun yang sama. Ada guru yang benar-benar demokratis, otoriter, ngotot ingin didengar selalu, sampai ada guru yang permisif sekali, membebaskan murid-muridnya pada lumpur keburukan.

·        Falsafah mengajar
Dikatakan bahwa siswa mestinya merasa nyaman dan dirangsang di dalam kelas. Hendaknya tidak ada tekanan dan ketegangan. Terkadang saya juga akan mengalami ketegangan jika gurunya tidak bersahabat, tetapi saya berusaha sekuat mungkin untuk menyesuaikan dengan karakter guru tersebut (belajar beradaptasi setelah saya memasuki jenjang SMA)

Dalam kegiatan proses belajar mengajar, guru hendaknya dapat menggunakan sejumlah strategi khusus yang dapat meningkatkan kreativitas, yaitu:

·        Penilaian
Pemberian umpan balik, melibatkan siswa dalam menilai pekerjaan. Menurut saya, strategi ini cukup baik dalam membangkitkan gairah dan semangat anak menumbuhkan kreativitasnya, namun tidak semua guru yang melakukannya. Hanya beberapa guru yang benar-benar mengikuti progres siswa melalui interaksi dan penilaian yang terus menerus dengan siswa.

·        Hadiah
Materi bukanlah sesuatu pilihan yang efektif untuk memberikan hadiah kepada anak. Senyuman atau anggukan, kata penghargaan, dan kesempatan menjadi pilihan yang efektif dalam memberikan hadiah kepada hasil yang telah dikerjakan oleh anak. Senyuman itu merupakan hal yang krusial dalam pembentukan dan pengembangan kreativitas anak.


·        Pilihan
Untuk pilihan semenjak SD-SMA, kurang kelihatan kalau guru itu membebaskan anaknya atau muridnya dalam memilih hal yang diinginkan oleh anak didiknya. Pada masa kuliah inilah sangat terlihat dosen atau pengajar lebih mengusung pola otoritatif dalam kegiatan belajar mengajar.

PERAN MASYARAKAT


Arieti (1976 dalam Munandar) mengemukakan beberapa faktor sosiokultural yang creativogenic yakni:
·        Tersedianya sarana-prasarana kebudayaan
·        Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
·        Penekanan pada becoming tidak hanya pada being
·        Memberikan kesempatan terhadap  media kebudayaan bagi semua warga negara
·         Mengahargai rangsangan dari kebudayaan yang berbeda
·        Toleransi dan minat terhadap pandangan divergen
·        Interaksi antara pribadi yang berarti
·        Adanya penghargaan


Mochtar Lubis (1983) menegaskan bahwa salah satu persyaratan utama bagi berkembangnya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan.
Pendidikan formal, adanya model peran, fragmentasi politis, keadaan perang, gangguan sipil, Zeitgeist, dan ketidakstabilan politis adalah bagian-bagian yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kreativitas anak menurut Simonton (1978).
Peran masyarakat untuk memupuk bakat dan talenta siswa berbakat sudah semakin banyak ditemukan akhir-akhir ini seperti kursus, pelatihan, sanggar, dan sebagainya. Demikian pula untuk bakat dalam bidang psikomotor seperti olahraga dan bahkan sekarang sudah banyak ditemukan kursus untuk berbagai macam keterampilan seperti menjahit, memasak, kecantikan, dan sebagainya yang mengembangkan berbagai talenta. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan pendidikan anak berbakat dapat terwujud  melalui berbagai bentuk kerja sama.
Nah, dengan adanya fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh masyarakat atau negara adalah salah satu cara dalam pembentukan dan pengembangan kreativitas anak. Tinggal kita yang memilih dan menghias, bakat apa yang ingin kita asah lebih dalam lagi.



Lingkungan keluarga, sekolah, dan juga masyarakat sangat mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan dan pengembangan kreativitas anak. Orang tua harus dapat menjadi model yang baik untuk anak, dapat mengarahkan keinginan dan bakat anak. Kemudian, guru juga harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjadi seorang sahabat terhadap anak didiknya. Lingkungan masyarakat yang nantinya dihadapi oleh anak menjadi pengaruh besar dalam pengembangan kreativitas (orang tua dan guru menjadi prediktor dalam melilih lingkungan yang sehat).