Selasa, 09 April 2013 By: Muthia Audina

CINTAnya Lelaki pada Wanita



Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh...

Cinta adalah fitrah manusia. Cinta juga salah satu bentuk kesempurnaan penciptaan yang Allah berikan kepada manusia. Allah menghiasi hati manusia dengan perasaan cinta pada banyak hal. Salah satunya cinta seorang lelaki kepada seorang wanita, demikian juga sebaliknya

Rasa cinta bisa menjadi anugerah jika luapkan sesuai dengan bingkai nilai-nilai ilahiyah. Namun, perasaan cinta dapat membawa manusia ke jurang kenistaan bila diumbar demi kesenangan semata dan dikendalikan nafsu liar

Islam sebagai syariat yang sempurna, memberi koridor bagi penyaluran fitrah ini. Apalagi cinta yang kuat adalah salah satu energi yang bisa melanggengkan hubungan seorang pria dan wanita dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Karena itu, seorang pria sholeh tidak asal dapat dalam memilih wanita untuk dijadikan pendamping hidupnya.

Ada banyak faktor yang bisa menjadi sebab munculnya rasa cinta seorang pria kepada wanita untuk diperistri. Setidak-tidaknya seperti di bawah ini:

Karena akidahnya yang Shahih

Keluarga adalah salah satu benteng akidah. Sebagai benteng akidah, keluarga harus benar-benar kokoh dan tidak bisa ditembus. Jika rapuh, maka rusaklah segala-galanya dan seluruh anggota keluarga tidak mungkin selamat dunia- akhirat. Dan faktor penting yang bisa membantu seorang lelaki menjaga kekokohan benteng rumah tangganya adalah istri sholehah yang berakidah shahih serta paham betul akan peran dan fungsinya sebagai madrasah bagi calon pemimpin umat generasi mendatang

Allah menekankah hal ini dalam firmanNya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita- wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang- orang musyrik (dengan wanita- wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin- Nya. Dan Allah menerangkan ayat- ayat- Nya (perintah- perintah- Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran” (Al-Baqarah: 221)

Karena paham agama dan mengamalkannya

Ada banyak hal yang membuat seorang lelaki mencintai wanita. Ada yang karena kemolekannya semata. Ada juga karena status sosialnya. Tidak sedikit lelaki menikahi wanita karena wanita itu kaya. Tapi, kata Rasulullah yang beruntung adalah lelaki yang mendapatkan wanita yang faqih dalam urusan agamanya. Itulah wanita dambaan yang lelaki sholeh.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka, ambillah wanita yang memiliki agama (wanita sholehah), kamu akan beruntung. (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam juga menegaskan, Dunia adalah perhiasan, dan perhiasan dunia yang paling baik adalah wanita yang sholehah. (HR. Muslim, Ibnu Majah, dan An- Nasa’i)

Jadi, hanya lelaki yang tidak berakal yang tidak mencintai wanita sholehah... ^_^

Dari keturunan yang baik

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam mewanti-wanti kaum lelaki yang sholeh untuk tidak asal menikahi wanita. Jauhilah rumput hijau sampah! Mereka bertanya, Apakah rumput hijau sampah itu, ya Rasulullah? Nabi menjawab, Wanita yang baik tetapi tinggal di tempat yang buruk. (HR. Daruquthni, Askari, dan Ibnu Adi)

Karena itu Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam memberi tuntunan kepada kaum lelaki yang beriman untuk selektif dalam mencari istri. Bukan saja harus mencari wanita yang tinggal di tempat yang baik, tapi juga yang punya paman dan saudara-saudara yang baik kualitasnya. Pilihlah yang terbaik untuk nutfah-nutfah kalian, dan nikahilah orang-orang yang sepadan (wanita- wanita) dan nikahilah (wanita- wanitamu) kepada mereka (laki-laki yang sepadan), kata Rasulullah. (HR. Ibnu Majah, Daruquthni, Hakim, dan Baihaqi)

Carilah tempat-tempat yang cukup baik untuk benih kamu, karena seorang lelaki itu mungkin menyerupai paman- pamannya, begitu perintah Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam lagi. Nikahilah di dalam kamar yang sholeh, karena perangai orang tua (keturunan) itu menurun kepada anak. (HR. Ibnu Adi)

Karena itu, Utsman bin Abi Al- Ash Ats- Tsaqafi menasihati anak-anaknya agar memilih benih yang baik dan menghindari keturunan yang jelek. Wahai anakku, orang menikah itu laksana orang menanam. Karena itu hendaklah seseorang melihat dulu tempat penanamannya. Keturunan yang jelek itu jarang sekali melahirkan (anak), maka pilihlah yang baik meskipun agak lama.

❥ Masih gadis

Siapapun tahu, gadis yang belum pernah dinikahi masih punya sifat- sifat alami seorang wanita. Penuh rasa malu, manis dalam berbahasa dan bertutur, manja, takut berbuat khianat, dan tidak pernah ada ikatan perasaan dalam hatinya. Cinta dari seorang gadis lebih murni karena tidak pernah dibagi dengan orang lain, kecuali suaminya

Karena itu, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menganjurkan menikah dengan gadis. Hendaklah kalian menikah dengan gadis, karena mereka lebih manis tutur katanya, lebih mudah mempunyai keturunan, lebih sedikit kamarnya dan lebih mudah menerima yang sedikit, begitu sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan Baihaqi.

Tentang hal ini Aisyah pernah menanyakan langsung ke Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam. Ya Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika engkau turun di sebuah lembah lalu pada lembah itu ada pohon yang belum pernah digembalai, dan ada pula pohon yang sudah pernah digembalai; di manakah engkau akan gembalai ontamu? Nabi menjawab, pada yang belum pernah digembalai. Lalu Aisyah berkata, Itulah aku.

Menikahi gadis perawan akan melahirkan cinta yang kuat dan mengukuhkan pertahanan dan kesucian. Namun, dalam kondisi tertentu menikahi janda kadang lebih baik daripada menikahi seorang gadis. Ini terjadi pada kasus seorang sahabat bernama Jabir.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam sepulang dari Perang Dzat al-Riqa bertanya pada Jabir, Ya Jabir, apakah engkau sudah menikah? Jabir menjawab, Sudah, ya Rasulullah. Beliau bertanya, Janda atau perawan? Jabir menjawab, Janda. Beliau bersabda, Kenapa tidak gadis yang engkau dapat saling mesra bersamanya? Jabir menjawab, Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku telah gugur di medan Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan. Karena itu aku menikahi wanita yang dapat mengurus mereka. Nabi bersabda, Engkau benar, InsyaAllah... ^_^

Sehat jasmani dan penyayang

Sahabat Maqal bin Yasar berkata, Seorang lelaki datang menghadap Nabi shalallahu’alaihi wa sallam seraya berkata, sesungguhnya aku mendapati seorang wanita yang baik dan cantik, namun ia tidak bisa melahirkan. Apa sebaiknya aku menikahinya? Beliau menjawab, Jangan. Selanjutnya ia pun menghadap Nabi shalallahu’alaihi wa sallam untuk kedua kalinya, dan ternyata Nabi tetap mencegahnya. Kemudian ia pun datang untuk ketiga kalinya, lalu Nabi shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, Nikahilah wanita yang banyak anak, karena sesungguhnya aku akan membanggakan banyaknya jumlah kalian di hadapan umat-umat lain. (HR. Abu Dawud dan An- Nasa’i)

Karena itu, Rasulullah menegaskan, Nikahilah wanita-wanita yang subur dan penyayang. Karena sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian dari umat lain. (HR. Abu Daud dan An- Nasa’i)

Berakhlak mulia

Abu Hasan Al-Mawardi dalam Kitab Nasihat Al-Mulk mengutip perkataan Umar bin Khattab tentang memilih istri baik merupakan hak anak atas ayahnya, Hak seorang anak yang pertama-tama adalah mendapatkan seorang ibu yang sesuai dengan pilihannya, memilih wanita yang akan melahirkannya. Yaitu seorang wanita yang mempunyai kecantikan, mulia, beragama, menjaga kesuciannya, pandai mengatur urusan rumah tangga, berakhlak mulia, mempunyai mentalitas yang baik dan sempurna serta mematuhi suaminya dalam segala keadaan.

❥ Lemah-lembut

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Aisyah radhiyallahu ’anha bahwa Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, Wahai Aisyah, bersikap lemah lembutlah, karena sesungguhnya Allah itu jika menghendaki kebaikan kepada sebuah keluarga, maka Allah menunjukkan mereka kepada sifat lembah lembut ini. Dalam riwayat lain disebutkan, Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada sebuah keluarga, maka Allah memasukkan sifat lemah lembut ke dalam diri mereka.

Menyejukkan pandangan

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, Tidakkah mau aku kabarkan kepada kalian tentang sesuatu yang paling baik dari seorang wanita? (Yaitu) wanita sholehah adalah wanita yang jika dilihat oleh suaminya menyenangkan, jika diperintah ia mentaatinya, dan jika suaminya meninggalkannya ia menjaga diri dan harta suaminya. (HR.Abu daud dan An-Nasa’i)

Sesungguhnya sebaik-baik wanitamu adalah yang beranak, besar cintanya, pemegang rahasia, berjiwa tegar terhadap keluarganya, patuh terhadap suaminya, pesolek bagi suaminya, menjaga diri terhadap lelaki lain, taat kepada ucapan dan perintah suaminya dan bila berdua dengan suami dia pasrahkan dirinya kepada kehendak suaminya serta tidak berlaku seolah seperti lelaki terhadap suaminya, begitu kata Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam lagi

Maka tak heran jika Asma binti Kharijah mewasiatkan beberapa hal kepada putrinya yang hendak menikah. Engkau akan keluar dari kehidupan yang di dalamnya tidak terdapat keturunan. Engkau akan pergi ke tempat tidur, di mana kami tidak mengenalinya dan teman yang belum tentu menyayangimu. Jadilah kamu seperti bumi bagi suamimu, maka ia laksana langit. Jadilah kamu seperti tanah yang datar baginya, maka ia akan menjadi penyangga bagimu. Jadilah kamu di hadapannya seperti budah perempuan, maka ia akan menjadi seorang hamba bagimu

Janganlah kamu menutupi diri darinya, akibatnya ia bisa melemparmu. Jangan pula kamu menjauhinya yang bisa mengakibatkan ia melupakanmu. Jika ia mendekat kepadamu, maka kamu harus lebih mengakrabinya. Jika ia menjauh, maka hendaklah kamu menjauh darinya. Janganlah kamu menilainya kecuali dalam hal-hal yang baik saja. Dan janganlah kamu mendengarkannya kecuali kamu menyimak dengan baik dan jangan kamu melihatnya kecuali dengan pandangan yang menyejukkan.

Realistis dalam menuntut hak dan melaksanakan kewajiban

Salah satu sifat terpuji seorang wanita yang patut dicintai seorang lelaki sholeh adalah qana’ah. Bukan saja qana’ah atas segala ketentuan yang Allah tetapkan dalam Al- Qur’an, tetapi juga qanaah dalam menerima pemberian suami. Sebaik-baik istri adalah apabila diberi, dia bersyukur; dan bila tak diberi, dia bersabar. Engkau senang bisa memandangnya dan dia ta’at bila engkau menyuruhnya. Karena itu tak heran jika acapkali melepas suaminya di depan pintu untuk pergi mencari rezeki, mereka berkata, Jangan engkau mencari nafkah dari barang yang haram, karena kami masih sanggup menahan lapar, tapi kami tidak sanggup menahan panasnya api jahanam.

Kata Rasulullah, Istri yang paling berkah adalah yang paling sedikit biayanya. (Ahmad, Al-Hakim, dan Baihaqi dari Aisyah radhiyallahu ’anha)

Tapi, Para wanita mempunyai hak sebagaimana mereka mempunyai kewajiban menurut kepantasan dan kewajaran, begitu firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surah Al-Baqarah ayat 228. Pelayanan yang diberikan seorang istri sebanding dengan jaminan dan nafkah yang diberikan suaminya. Ini perintah Allah kepada para suami, Berilah tempat tinggal bagi perempuan-perempuan seperti yang kau tempati. Jangan kamu sakiti mereka dengan maksud menekan. (QS. At-Thalaq: 6)

❥ Menolong suami dan mendorong keluarga untuk bertakwa

Istri yang sholehah adalah harta simpanan yang sesungguhnya yang bisa kita jadikan tabungan di dunia dan akhirat. Iman Tirmidzi meriwayatkan bahwa sahabat Tsauban mengatakan, Ketika turun ayat walladzina yaknizuna (orang yang menyimpan emas dan perak serta tidak menafkahkannya di jalan Allah), kami sedang bersama Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam dalam suatu perjalanan. Lalu, sebagian dari sahabat berkata, Ayat ini turun mengenai emas dan perak. Andaikan kami tahu ada harta yang lebih baik, tentu akan kami ambil. Rasulullah kemudian bersabda, Yang lebih utama lagi adalah lidah yang berdzikir, hati yang bersyukur, dan istri sholehah yang akan membantu seorang mukmin untuk memelihara keimanannya.

Mengerti kelebihan dan kekurangan suaminya

Nailah binti Al- Fafishah Al- Kalbiyah adalah seorang gadis muda yang dinikahkan keluarganya dengan Utsman bin Affan yang berusia sekitar 80 tahun. Ketika itu Utsman bertanya, Apakah kamu senang dengan ketuaanku ini? Saya adalah wanita yang menyukai lelaki dengan ketuaannya, jawab Nailah. Tapi ketuaanku ini terlalu renta. Nailah menjawab, Engkau telah habiskan masa mudamu bersama Rasulullah dan itu lebih aku sukai dari segala-galanya.

Pandai bersyukur kepada suami

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam bersabda, Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada suaminya, sedang ia sangat membutuhkannya. (HR. An- Nasa’i)

❥ Cerdas dan bijak dalam menyampaikan pendapat

Siapa yang tidak suka dengan wanita bijak seperti Ummu Salamah? Setelah Perjanjian Hudhaibiyah ditandatangani, Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk bertahallul, menyembelih kambing, dan bercukur, lalu menyiapkan onta untuk kembali pulang ke Madinah. Tetapi, para sabahat tidak merespon perintah itu karena kecewa dengan isi perjanjian yang sepertinya merugikan pihak kaum muslimin.

Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam menemui Ummu Salamah dan berkata, Orang Islam telah rusak, wahai Ummu Salamah. Aku memerintahkan mereka, tetapi mereka tidak mau mengikuti.

Dengan kecerdasan dalam menganalisis kejadian, Ummu Salamah mengungkapkan pendapatnya dengan fasih dan bijak, Ya Rasulullah, di hadapan mereka Rasul merupakan contoh dan teladan yang baik. Keluarlah Rasul, temui mereka, sembelihlah kambing, dan bercukurlah. Aku tidak ragu bahwa mereka akan mengikuti Rasul dan meniru apa yang Rasul kerjakan.

SubhanAllah, Ummu Salamah benar. Rasulullah keluar, bercukur, menyembelih kambing, dan melepas baju ihram. Para sahabat meniru apa yang Rasulullah kerjakan. Inilah berkah dari wanita cerdas lagi bijak dalam menyampaikan pendapat. Wanita seperti inilah yang patut mendapat cinta dari seorang lelaki yang sholeh.

Wallahua’lam bish shawab.

Semoga Bermanfaat InsyaAllah...

0 comments:

Posting Komentar