Teruntuk kamu yang baca ini :D. Kamu harus tahu betapa kreatifnya soal UAS Mk Kreativitas yang telah kami lalui dua hari yang lalu, tepatnya di hari rabu, tanggal 22 Januari 2014. Namanya saja Kreativitas, ya harus kreatif donk, termasuk model ujiannya juga :D
Kalau boleh saya paparkan dari apa yang saya rasakan tentang judul postingan yang sedang kamu baca ini, waah, Uas mk Kreativitas beda, lain dari pada yang lain, unik, dibalut dengan penuh jiwa kekreativitasan, sampai-sampai bahasa soalnya juga kreatif, ada banyak juga yang terkecoh karena tidak membaca soal dengan menggunakan hati (mungkin :D)
Soalnya terdiri dari 3 soal, yang masing-masing jawabannya menuntut penalaran kreatif, satu hal yang harus kamu tahu, tidak hanya soal yang diberikan kepada kami, tetapi ada stimulus juga. Saya jamin kamu pasti jarang menyelesaikan soal yang sebegitu uniknya :D. Saya juga baru pertama kali ujian seperti ini. Serasa aplikasi dari semua yang dipelajari tentang teori-teori krativitas diterima oleh mahasiswa dengan cara memunculkan ide-idenya melalui kumpulan huruf-huruf yang menyatu menjadi sebuah makna, kemudian dipasangkan lagi dengan kumpulan huruf yang lain, dan akhirnya lahirlah sebuah jawaban. Mungkin selama proses belajar mengajar, aplikasi dari teori-teori kreativitas tersebut telah didapat/dilaksanakan, namun ada bedanya. Di UAS hanya diberikan 90 menit berpikir untuk menghasilkan sebuah ide brilian yang kreatif.
Kamu juga harus mencoba metode ujian seperti ini, jangan yang hanya ditanya pada soal terus-menerus adalah "Tokoh ini mencetusakan tentang..., menurut Tokoh ini A adalah..." (seperti itu misalnya)
Apresiasi sekali buat dosen pengampuh mk Kreativitas, "uas kali ini sangat berbeda bu" (berkata di dalam hati).
Semoga segala hal-hal yang berwangikan kreatif dapat tercurahkan juga buat kami anak-anakmu yang telah menempuh proses belajar selama kurang lebih 6 bulan, walau sebenarnya waktu itu tidaklah lama. Dan yang terpenting adalah semoga dapat teraplikasikan semua "proses-proses itu" dengan cara-cara yang baik di dalam kehidupan sehar-hari.
Ada beberapa huruf yang jika digabungi akan membentuk makna yang sangat dalam, makna yang kadang membuat kita untuk berpikir, makna yang menjadikan kita bangga akan diri sendiri, makna yang selalu menguatkan kita dalam hal apapun, makna yang memberanikan kita untuk berteriak “ya ini aku”, makna yang mengajari kita untuk menyebarkan cinta, makna “karena mereka aku ada, atas izin Allah”, dan banyak sejuta makna lagi yang ada di dalam tubuhnya.
Dan beberapa huruf itu adalah...Kamu tahu apa? Mereka tersusun dari delapan huruf, yang perannya dalam kehidupan sangat penting, huruf yang delapan itu ibarat sebuah pondasi dalam pembangunan. Hal yang paling penting dalam membangun rumah, gedung, kantor, atau apapun itu adalah pondasinya. Seberapa lama suatu bangunan bertahan untuk berdiri di dunia, kita bisa mengestimasinya dari seberapa kuat pondasi bertahan. Mereka itu, delapan huruf yang tidak akan pernah dapat tergantikan dengan apapun itu, yang tak bisa dicangkok-cangkok dengan delapan huruf lainnya.
Delapan huruf itu adalah KELUARGA. Suatu hal, yang sering kadang membuat kita marah, tetapi, lebih sering sekali menciptakan sebuah senyuman di wajah kita, yang membuat bibir ini tersungging kalau pikiran ini terlintas pada mereka. Yang juga sering menangis sembunyi-sembunyi kalau penyakit rindu menghampiri saat jarak memisahkan, yang hati ini sangat sensitive kalau lagi ada pembicaraan atau topik-topik dalam suatu forum tentang mereka, yang selalu menjadi pertanyaan awal saat sampai di rumah, “mama dimana?”, walaupun sangat jarang ditanya, “ayah mana?”, tetapi kalau lagi butuh alat tukar-menukar, pasti yang dicari adalah ayah. Mereka itu nomor satu dalam hidup, pengisi terbanyak dalam relung hati. Wanita tercantik di dunia akhirat dan pria tertampan di dunia akhirat (In sya'a Allah).
Wanita yang selalu kuat dalam memanage masalah, apapun itu. Yang akan selalu menyimpan air matanya jika sakit yang dirasanya masih bisa tertahankan, yang mempertaruhkan nyawanya untuk seorang manusia, yang dengan setianya membawa-bawa, kesana-kemari kandungannya selama sembilan bulan. Yang selalu memberikan formula terbaik untuk anak-anaknya. Yang masih bisa memberikan senyuman termanis saat dia telah melewati operasi sekalipun untuk kelahiran anaknya. Yang mempunyai seratus juta cara dalam mendiamkan tangisnya anak-anak. Wanita yang rela melakukan sesuatu demi melihat kesuksesan anak-anaknya. Yang jasa-jasanya tak akan bisa kita listkan satu persatu dalam tumpukan lembaran kertas.
Ada saat dimana hati ini selalu bergetar, mata ini selalu panas dan tiba-tiba berair kalau mengingat event-event terindah saat bersamanya, wanita itu. Sebenarnya kejadian itu adalah duka buat keluarga kami, tetapi di hati ini, event itu tersimpan dalam bingkai terindah saat bersamanya. Saat keluarga kami benar-benar diuji keimanannya oleh Sang Pencipta. Entah mengapa, ketika itu kakak berbohong kepada wanita itu, saya juga. Padahal yang harus tahu pertama kali adalah dia, dia adalah ibunya, berhak tahu apapun yang terjadi pada anak-anaknya.
Ketika itu saya masih bersekolah setingkat SMA, di kota kelahiran. Ibu, saya, dan adik-adik saya yang selalu meramai-ramaikan rumah saat itu. Dua kakak sedang berjuang meraih kesuksesan di kota metropolitan nomor empat di Indonesia, kebetulan mereka bertempat tinggal di rumah nenek. Nyaris kami benr-benar dibohongi satu harian oleh mereka. Kejadian itu bertepatan pada saat marah ini sedang memuncak pada ibu (paginya). Masih kuat memori ini untuk membuka lagi potret-potret kejadian itu.
19 Maret 2012, tepatnya senin subuh, kejadian yang jika ditanya kepada semua orang pasti menolak untuk tidak menghampiri, namun apalah daya, semua sudah disett oleh Allah, karena sebenarnya kita tak akan pernah belajar dari sesuatu yang sifatnya senang-senang. Cobaan itu adalah hal yang paling tidak mengenakkan dalam kehidupan ini, tetapi di dalam semua itu ada pelajaran-pelajaran yang sangat berharga bagi orang-orang yang pandai melihat cahaya dalam kegelapan. Cobaan itu sangat mengguncang kami, subuh itu ketika kakak yang pertama sedang memasak air di rumah nenek, entah apa yang membuatnya lupa bahwa kompor tersebut sudah tak ada lagi minyak (kosong), padahal ibu (adik perempuannya ayah) sudah memberi tahu hal itu. Begitulah takdir Allah, siapapun tak akan bisa menolaknya. Ketika kompor dihidupkan belum ada bereaksi apa-apa, selang menit berganti, saat panci air diangkat ke atas kompor, jeduarrr, nyala api besar memerah di dapur. Kakak jadi orang paling bodoh sedunia ketika itu, sanggup dia berlari lagi ke kamar untuk meyebarkan informasi bahwa dia terkena api besar, kepanikan yang terlalu besar. Padahal, kalau bisa disetting-setting kejadiannya supaya luka bakarnya tidak parah, kakak bisa saja langsung berlari ke kamar mandi yang berjarak 1 m dari dapur untuk memadamkan api dari tubuhnya. Tetapi sayang sekali, sekali lagi kita memang tak bisa bekuasa kuat untuk mengatur semua itu.
Kejadiannya subuh, dan kami yang berada di rumah, kota kelahiran, baru diberitahu sekitar pukul 20.00 WIB. Mungkin supaya ibu (mamak) tidak begitu panik, khawatir, takut. Apa? hal hasil? Ibu mana coba akan menghasilkan reaksi biasa saja saat mendengar anaknya ditimpah dengan hal yang begitu. Di situ ibu benar-benar tak menyembunyikan tangisnya dari saya, dia benar-benar menangis, menangis yang sesungguhnya. Saat itu saya mendapatkan moment terindah dalam hidup, yang tak akan tergantikan oleh cerita-cerita yang lain, apapun itu. Saya melihat air matanya. Dengan sendirinya air mata ini pun ikut terjatuh dalam pelukannya. “Keimanan kita sedang diuji mak, tak baek berprasangka buruk pada Sang Pencipta. Cobaan adalah rahmat, rahmat yang tak disukai rasanya oleh manusia, karna sesungguhnya bersama kesulitan datang kemudahan. Semua itu sebenarnya adalah proses jalan menuju kekuatan diri. Calm down mamakku sayang, don’t crying”
Pria yang sampai sekarang tak ada menandingi betapa luar biasanya dia di hatiku, sangat bercahayanya dia dimataku, sangat gagahnya dia jika berada di hadapanku, pria yang cintanya benar-benar sejati kepadaku, pria yang kadang-kadang tak bisa sama sekali menunjukkan sayangnya terhadapku, yang sangat besar tanggungjawabnya untuk menjagaku, yang melakukan segala cara untuk melihat kesuksesan-kesuksesan itu, yang selalu mencari anak-anaknya jika dia sampai di rumah, yang selalu dengan gemas mencium pipi keningku.
Pria itu tetap di sini, tetap hidup di hati ini, di sini, dekat denganku, walau hanya 8 tahun bisa membalas ciuman yang selalu melesat di wajahku. Pria itu tetap dekat, selalu ada selama-lamanya bersemi di hatiku. Tetap menjadi pria numero uno di dalam relung hati.
Pria itu adalah ayahku. Satu-satunya yang akan menjadi ayah selama-lamanya dalam hidup. Semua yang dilakukannya biasa-biasa saja, tak banyak waktu yang diberikan padanya, namun sangat luar biasa menurutku dan tetap kekal di hati ini. Yang hanya terbayang dari dia adalah ciumannya yang sering melekat lamat-lamat dipipi, yang sampai sekarang aku masih merindukan ciuman sayang darinya, yang selalu intens dilakukannya.
Seseorang tidak akan mampu mengeluarkan apa-apa di dalam tulisannya, apabila apa-apa yang ingin dikeluarkan itu tak pernah dialaminya secara konkret, karena mungkin kita tak pernah menjadi sesuatu tanpa kita pernah mengalami (kenyataan)-nya.
“Salam rindu selalu buat ayah, tetap tersenyum di sana ya yah. Salam kangen buat mamak, tetap kuat yaa mak”. Jarak tak akan mengubah segalanya, tidak akan mengubah rasa dari Allah ini.
Kau begitu berarti, sungguh sangat berarti, kesempurnaan cinta yang kau beri. Aku menyayangimu dalam senyum dan tangisku dan aku mencintaimu dalam hidup dan matiku. Terimakasih atas waktu dan pikiran yang telah disisihkan untuk membaca tulisan saya. Semoga selalu ada pelajaran yang didapat dari sesuatu, apapun itu.
Kurikulum berdiferensiasi bertujuan memberi pengalaman pendidikan yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan intelektual murid. Nah, apa sebenarnya makna yang sesungguhnya tentang kurikulum berdiferensiasi ini bagi siswa yang berbakat, jawabnya adalah untuk menumbuhkan rasa keberhasilan, kepuasan, dan tantangan, menjadikan siswa aktif, tidak merasa bosan di sekolah, dan dengan itu juga dapat menghindari underachievement pada anak tersebut.
Bagi siswa berbakat, ada empat faktor yang perlu dimodifikasi agar mereka memperoleh pembelajaran yang sesuai, yaitu:
lingkungan belajar
Konten pembelajaran
Proses atau metode pembelajaran
Proses belajar siswa
Sains, matematika, bahasa, dan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) adalah mata pelajaran yang dianggap perlu ada pendekatan yang maksimal dalam mengajarkannya kepada siswa-siswa berbakat.
Sains dan matematika amat penting dalam pendidikan siswa saat ini dan memerlukan pengembangan yang secara terus menerus. Memenuhi kebutuhan siswa berbakat dalam sains dan matematika sangat penting untuk kesejahteraan masyarakat dan individu.
bahasa tidak hanya merupakan alat asosiasi, tetapi juga sebagai dasar perkembangan kecerdasan. Pembelajaran bahasa di sekolah-sekolah menengah menekankan pada pengembangan keterampilan pengarahan diri, skill kreatif-produktif, abstraksi dan pemikiran tingkat tinggi, serta melibatkan isu dan tema dalam prestasi bahan dan materi.
Dalam pembelajan IPS untuk siswa berbakat, menekankan adanya keterlibatan siswa dalam memberikan sumbangan orisinal terhadap masyarakat serta menjadi waraga yang bertanggung jawab. pembelajaran IPS untuk siswa berbakat mengambil tema yang luas, seperti memahami dan mengakui saling ketergantungan global.
2. Model Belajar Mengajar Kreatif
Banyak model belajar mengajar yang dapat digunakan pada siswa pada umumnya dan khususnya bagi siswa berbakat di dalam kelas. Ada delapan model belajar mengajar kreatif, yang masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Untuk kurikulum komprehensif, model-model dapat digabungkan untuk tujuan tertentu saja. Pembelajaran akan sangat berhasil jika kita mengetahui model mana yang paling penting digunakan.
TAKSONOMI / MODEL
BAGIAN PSIKOLOGI/RANAH
KREATIVITAS
Bloom
Kognitif
Sintesis
Guilford
Kognitif
Berpikir divergen
Taylor
Kognitif
Bidang kreatif-produktif
Treffinger
Kognitif-Afektif
Ketiga tingkat pengembangan kreativitas
Renzulli
Kognitif-Afektif
Tiga tipe pengayaan
Williams
Kognitif-Afektif
Dimensi strategi mengajar guru
dan perilaku siswa
Krathwohl
Afektif
Ciri afektif dari kreativitas
Clark
Kognitif-Afektif
Perpaduan antara pemikiran, perasaan, pengindraan, dan firasat
3. Teknik dan Pemecahan Masalah secara Kreatif
Teknik-teknik kreatif akan dipaparkan di bawah ini digolongkan menurut tiga tingkatan dari Treffinger.
Teknik tingkat I
Dimaksudkan untuk merangsang berpikir divergen, menumbuhkan rasa ingin tahu, dan adanya keterbukaan terhadap gagasan baru serta kepekaan terhadap masalah.
Teknik tingkat I sering dikenal sebutannya sebagai teknik sumbang saran. Nah, teknik ini memiliki 4 aturan dasar, yaitu:
kebebasan dalam memberikan gagasan
tidak boleh memberikan kritik pada tahap pencetusan gagasan
penekanan pada kuantitas
kombinasi atau pengembangan gagasan
2. Teknik tingkat II
Melatih proses-proses pemikiran yang lebih majemuk, seperti yang dituntut pada teknik synectic dan futuristic.
teknik synectic, melatih siswa untuk berpikir berdasarkan analogi dalam pemecahan masalah, siswa diperkenalkan dalam penggunaan anologi fantasi, anologi langsung, dan anolgi pribadi.
teknik futuristic, membantu siswa untuk mengantisipasi dan mencipta masa depannya dengan cara menulis skenario, menggambarkan roda masa depan, dan trending yang menggunakan pertanyaan untuk mengidentifikasi kecenderungan yang ada dan yang akan timbul.
3. Teknik tingkat III
Menghadapkan siswa pada tantangan dan masalah nyata. Ada dua pendekatan dalam teknik tingkat III ini, pendekatan pertama adalah pemecahan masalah secara kreatif (PMK), yang meliputi lima tahap. yakni:
menemukan fakta
menemukan masalah
menemukan gagasan
penemuan sosial
menemukan penerimaan atau tahap pelaksanaan
Pendekatan kedua adalah Shallcross yang membedakan antara primary crativity dengan secondary cerativity, menyuguhkan lima tahapan juga, yaitu:
orientasi
persiapan
penggagasan
penilaian
pelaksanaan atau implementasi.
sumber:
Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: Rineka Cipta.
Kelompok 3 Livi Yohana 121301002 Eka Sartika 121301007 Muthia Audina 121301029 Permata Ismawarni Putri 121301030 Teori Wallas merupakan salah satu teori tentang proses kreatif. Teori Wallas yang dikemukakan tahun 1926 dalam buku The Art of Thought (Piirto,1992) menyatakan bahwa proses kreatif meliputi empat tahap, yaitu : 1. Persiapan 2. Inkubasi 3. Iluminasi 4. Verifikasi Pada tahap pertama, seseorang mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban, bertanya kepada orang lain, dan sebagainya. Kami dalam merancang konsep performa kreatif kelompok telah melewati tahap ini. Di awal saat menerima kontrak kuliah, kami sudah memikirkan akan mempersembahkan penampilan seperti apa dan bagaimana.
Pada tahap kedua, kegiatan mencari data atau informasi tidak dilanjutkan. Tahap inkubasi adalah tahap di mana individu seakan-akan melepaskan diri untuk sementara dari masalah tersebut, dalam arti bahwa ia tidak memikirkan masalahnya secara sadar, tetapi "mengeramnya" dalam alam pra sadar. Kami juga telah melewati tahap ini. Pada saat itu, kami sibuk dengan tugas individu masing-masing dan melupakan sejenak mengenai konsep performa yang ingin kami tampilkan nantinya.
Tahap iluminasi adalah tahap timbulnya "insight", timbulnya inspirasi atau gagasan baru, serta proses-proses psikologis yang mengawali dan mengikuti munculnya inspirasi/gagasan baru tersebut. Tahap ini terjadi pada kami saat sekita seminggu menjelang UTS. Saat itu, muncullah kesepakatan inspirasi mengenai konsep performa kreatif yang akan kami tampilkan.
Tahap terakhir yaitu tahap verifikasi atau tahap evaluasi. Pada tahap ini, ide atau inspirasi kreasi baru tersebut harus diuji terhadap realitas. Kami akan menuju tahap ini dan akan melewati tahap ini saat kami telah menampilakan performa kreatif kelompok di kelas Kreativitas nanti.
Tujuan dan Manfaat Pembuatan Karya Kreativitas • Memberikan pesan moral yang tidak menggurui dengan cara yang lebih akrab. • Sebagai media untuk mengekpresikan kreativitas kelompok. • Sebagai pembelajan untuk mengembangkan kreativitas. Perencanaan: Banyak sekali kita liat sekarang fenomena yang terjadi di sekitar kita, mulai dari yang sudah berumur, belum berumur, atau sedang berumur tidak mengindahkan segala peraturan yang telah ditetapkan. Kita liat saja di jalanan sekarang sudah bagaimana? Semberautnya sudah tidak bisa di deskripsikan lagi, salip sana, salip sini, jalan terus walaupun lampu di pinggiran jalan menyala merah meriah, tidak jarang yang sengaja menghidupkan bunyi klakson pada saat si merah itu muncul. Nah, mungkin untuk menyadarkan betapa pentingnya tata tertib ketika kita sedang berada di jalanan adalah dengan cara menyuguhkan sebuah tontonan yang ringan tetapi berpesankan moral yang jauh dari sifat menggurui. Kami akan mempersembahkan sebuah performa kreatif berupa drama singkat yang bertemakan “Ugal-ugalan Membawa Derita”. Di sini kami merancang konsep sebagai berikut: • Permata Ismawarni Putri sebagai pengemudi motot • Livi Yohana sebagai pengemudi motor • Eka Sartika sebagai rambu lalu lintas • Muthia Audina sebagai polisi lalu lintas Rangkaian drama yang akan kami tampilkan adalah: Ada dua orang anak muda dengan gaya “sok keren” tidak mematuhi peraturan lalu lintas dan tidak memakai atribut yang lengkap. Kemudian, ada seorang polisi lalu lintas yang sedang berjaga, polisi tersebut memperingatkan mereka dan hendak menilang motor mereka, tetapi mereka melarikan diri. Ketika mereka kebut-kebutan dalam melarikan diri tiba-tiba saja mereka kecelakaan. Di akhir cerita polisi akan memberikan pesan moral kepada audience. Nah, apa saja bahan yang akan kami gunakan? Kami akan memakai kostum yang tidak biasanya (misalnya: orang yang naik motor memakai baju yang tidak biasa, polisi dsb), semua wajah aktor akan ditutup dengan kardus yang berbentuk wajah lucu dan ada yang menjadi rambu lalu lintas.
Teman-teman pernah tidak membayangkan ujian yang dilaksanakan secara online? Wah, jika tidak. Ayo coba disaranin kepada gurunya untuk membuat ujian kamu dengan bantuan jaringan internet. Pasti pertanyaan selanjutnya setelah saya menyarankan seperti itu adalah "memang bagaimana rasanya kalau ujiannya online?" Wah, tidak akan ada rasanya jika tidak dirasa sendiri :) makanya, yuk pantengin terus sampai habis tulisan saya supaya agak tergugah dan penasaran sama apa yang saya rasakan.
Semua ini berawal dari dialog antara dosen mata kuliah Kreativitas dengan mahasiswa/i (tentu saja yang mengambil mata kuliah Kreativitas), tertanggal 24 Oktober 2013, tepatnya Kamis pagi. Nah, di hari itulah ditanyakan kepada kami semua (mahasiswa mk. Kreativitas), "metode apa yang kalian inginkan untuk UTS?" Saya sontak (entahlah semuanya begitu atau tidak). Dengan tidak sengaja bicaralah hati nurani ini "mak, enak kali ujian bisa milih"
Lantas dialog pun semakin aktif (tetapi tidak sampai panas), ada sekitar belasan mahasiswa yang memilih ujian indoor, dan belasan mahasiswa memilih agar ujian outdoor. Hanya beda satu orang, tetapi ujian outdoorlah yang menang. Saya pun ber"hah dan yaa" dengan wajah ditekuk.
Akhirnya kesepakatan di atas mufakat telah diputuskan, yaitu ujian online dengan 3 soal essai kemudian waktu tenggang selama 3 hari.
Soal pertama langsung diberikan pada hari kamis itu juga, tetapi apalah daya yang tidak dapat mengalahkan rasa malas ini, saya tidak langsung mengerjakannya. Saya baru mengerjakan soal pertama di sore hari sekitar jam 16.00, kamu tahu teman berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk saya dapat menyelesaikan soal pertama? kalau saya tidak salah, ada 6 jam saya memikirkan, merangkai, membaca untuk merampungkan kata-kata menjadi kalimat sehingga selesailah saya menjawab soal pertama tersebut. Saya pun mengutuk diri ini, andai langsung dikerjakan tak seperti ini jadinya.
Setelah soal pertama telah usai saya kerjakan, sekitar pukul 02.00 AM (lebih kurang), saya mendapatkan soal kedua. Saya baca. Saya renungi kembali jawaban saya pada soal pertama. Jadi teman, soal pertama dengan soal kedua berkaitan (mungkin juga dengan nomor 3, pikirku). Saya langsung buru mengerjakan soal kedua, ternyata berstatus sama dengan nasib soal pertama, saya tetap menghabiskan waktu selama berjam-jam untuk menyelesaikannya.
Soal ketiga pun saya terima, saya kerjakan dengan penuh semangat juang, ibarat pujungga memperjuangkan cinta sejatinya, apapun akan dilakukan. Alhamdulillah malam minggu selesai juga ujian mata kuliah Kreativitas.
Nah, setelah selesai semua soal saya kerjakan. Saya merenung sejenak, banyak sekali manfaat yang saya dapat dari ujian online ini. Mulai dari soal pakaian yang seharusnya pakai hitam putih, karena ujiannya online kita bisa bebas, mau tiduran, duduk tegak, menyandar dan hal-hal yang tidak memungkinkan kalau sedang ujian formal pada biasanya, tidak perlu seribet jika kita menghadapi ujian pada umumnya. Kemudian teman, jangan pernah takut kalau model soal ujiannya adalah essai, kenapa? karena soal essai dapat mengembangkan kreativitas, benar yang dibilang dosen pengampu mk. Krativitas, saya dapat bersemangat mengekspresikan jawaban-jawaban dengan penalaran da dibantu dengan buku pegangan. Kemudian saya berpikir lagi, bagaimana mungkin saya akan mengerjakan soal ujian dengan waktu yang berjam-jam jika ujiannya dilaksankan di dalam kelas. Syukurlah, ujiannya dilaksanakan di luar kelas, diberi waktu selam 3 hari. Memang luar biasa manfaat yang saya terima dari pengalaman pertama ujian online ini.
Mungkin pengganggu selama ujian online adalah jaringan yang semberaut sama seperti jalanan macet, jadi lelet. Tetapi,tetap bersyukur juga, karena tidak via blog, melainkan email.
Pribadi
yang dapat mengaktualisasikan diri adalah seseorang yang sehat mental, dapat
menerima dirinya, selalu berinovasi, berfungsi secara total, berpikir
demokratis serta kritis, dan sebagainya (Rogers Maslow).
Press yang peroleh dari eksternal, karena ujian adalah kewajiban, maka saya mengerjakannya prosedur ujian dengan syarat yang telah disepakati, dari dalam saya mendapat dorongan agar menghasilkan point-point cicilan nilai yang bagus untuk nilai akhir nanti, maka dari itu saya bersungguh-sungguh mengerjakan UST ini.
Benar sekali yang dikatakan oleh Wallas (1926) bahwa ada tahapan proses dalam pembuatan ide kreatif, yaitu:
·Tahap
persiapan, Saya mempersiapkan diri untuk memecahkan masalah dengan belajar berpikir, mencari jawaban.
Inkubasi, Kegiatan mencari dan menghimpun data/informasi tidak dilanjutkan, saya berhenti sejenak, tetapi tidak lepas dari berpikir hal apa yang saya akan paparkan dalam jawaban saya.
Iuminasi, Tahap timbulnya “insight”
atau “Aha-erlebnis”, saat timbulnya
inspirasi atau gagasan baru. Akhirnya saya dapat ide.
Verifikasi, Tahap dimana ide atau kreasi baru tersebut harus
diuji terhadap realitas, karena kejadian itu benar-benar saya alami, jadi saya dengan mudah menulis ulang.
nah, hasil akhir adalah saya dapat mengerjakan ujian dengan tepat waktu dan tentu pula jawaban yang saya paparkan tepat (menurut saya).
oke, UJIAN online (pertama kali)ini keren dan banyak manfaatnya.
Menurut Arieti (1976 dalam Munandar)
mengemukakan beberapa faktor sosiokultural yang creativogenic yakni:
·Tersedianya sarana-prasarana kebudayaan
·Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
·Penekanan pada becoming
tidak hanya pada being
·Memberikan kesempatan terhadap media kebudayaan
bagi semua warga negara
· Mengahargai
rangsangan dari kebudayaan yang berbeda
·Toleransi dan minat terhadap pandangan divergen
·Interaksi antara pribadi yang berarti
·Adanya penghargaan
Dengan adanya usaha untuk
menciptakan point-point di atas di
dalam lingkungan, maka kita selaku individu yang ingin membentuk dan mengembang
kreativitas akan lebih mudah berproses untuk mencapai itu.
Mochtar
Lubis (1983) menegaskan bahwa salah satu persyaratan utama bagi berkembangnya
kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan.
Pendidikan
formal, adanya model peran, fragmentasi politis, keadaan perang, gangguan sipil,
Zeitgeist, dan ketidakstabilan politis adalah bagian-bagian yang sangat
berpengaruh dalam perkembangan kreativitas anak menurut Simonton (1978).
Menurut Selo Soemardjan, kemampuan
kreatif seseorang tidak pernah lepas dari pengaruh kebudayaan dan masyarakat
yang mengelilinginya. Timbul, tumbuh, dan berkembangnya suatu kreasi yang diciptakan
oleh individu tidak luput dari pengaruh masyarakat dimana individu itu hidup
dan bekerja. Di samping itu peranan teknologi dalam suatu kebudayaan juga dapat
membatasi atau meluaskan kreativitas. Teknologi yang sudah mencapai tingkat
perkembangan yang tinggi membuka kemungkinan yang luas untuk kreativitas bisa
timbul dan berkembang dalam suatu masyarakat.
Menurut Senada dan Carl Roger salah satu persyaratan
utama bagi berkembangnya kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan (
berfikir, mencipta ) baik dalam bentuk vertikal maupun secara horizontal.
Peran
masyarakat untuk memupuk bakat dan talenta siswa berbakat sudah semakin banyak
ditemukan akhir-akhir ini seperti kursus, pelatihan, sanggar, dan sebagainya.
Demikian pula untuk bakat dalam bidang psikomotor seperti olahraga dan bahkan
sekarang sudah banyak ditemukan kursus untuk berbagai macam keterampilan
seperti menjahit, memasak, kecantikan, dan sebagainya yang mengembangkan
berbagai talenta. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
pendidikan anak berbakat dapat terwujud melalui berbagai bentuk
kerja sama.
Lingkungan ekternal dan internal akan sangat cenderung
mempengaruhi behavior dan kepribadian
manusia, dengan kata lain nature dan nurture lah salah satu yang akan berperan
dalam pembentukan kepribadian itu sendiri. Tidak hanya behavior, lingkungan internal maupun ekternal,
nature, dan nurture juga berperan aktif dalam pembentukan kreatifitas anak. Lingkungan internal itu dapat berupa sesuatu
yang berasal dari dalam individu sendiri, misalnya: motivasi internal,
tanggungjawab dalam menyelesaikan suatu hal, sedangkan untuk lingkungan
ekternal, yaitu lingkungan-lingkungan yang berada di luar pribadi (manusia) tersebut,
misalnya: keluarga, sekolah, masyarakat, teman sebaya, dan sebagainya. Kemudian,
nature merujuk kepada segala hal yang
berbau genetika, pengaruh dari gen. Nurture
sama dengan penjelasan seperti lingkungan eksternal, yaitu lingkungan sosial. Munandar (2009) dalam bukunya
menuliskan bahwa kreativitas merupakan persimpangan (intersection) antara keterampilan anak dalam bilang tertentu (domain skills), keterampilan berpikir dan bekerja kreatif (creative thinking and working skills), dan
motivasi intrinsik, dapat juga disebut motivasi batin (Intrinsic Motivation).
Dalam usaha
pengembangan kreativitas anak, anak sebaiknya diberikan latihan pada
keterampilan sesuai dengan bakat dan sesuai dengan apa yg diinginkan anak.
Orang tua dan pendidik bertugas menciptakan iklim ataupun kondisi yang baik
bagi pengembangan kreativitas anak dan memberikan sarana yang cukup. Dan juga
dibutuhkan adanya motivasi intrinsik pada anak agar terwujudnya keberhasilan
kreatif.
Dalam tulisan ini akan dipaparkan bagaimana peran lingkungan
keluarga, sekolah, dan juga masyarakat atau pun teman sebaya dalam pembentukan
dan pengembangan kreativitas sang anak.
PERANAN KELUARGA
Dacey
melakukan penelitian mengenai karakteristik keluarga yang kreatif. Terdapat
beberapa kesimpulan dan karakteristik yang mempengaruhi kreativitas pada anak
dari hasil studi tersebut, yaitu:
·Faktor genetis VS Lingkungan
·Aturan perilaku
·Tes Kreativitas sebagai Prediktor Prestasi Kreatif
Remaja
·Masa kritis
·Humor
·Ciri-Ciri Menonjol Lainnya
·Perumahan
·Pengakuan dan Penguatan pada Usia Dini
·Gaya Hidup Orang Tua
·Trauma
·Dampak dari Sekolah
·Bekerja Keras
·Dominasi Lateral
·Perbedaan Jenis Kelamin
·Penilaian Orang Tua Mengenai Kreativitas Anak
·Jumlah Koleksi
Gaya hidup dan penilaian orang tua terhadap
kreativitas anak juga berpengaruh dalam perkembangan kreativitas. Serta
kreativitas dapat berkembang dalam suasana non otoriter, yang memungkinkan
individu untuk berpikir dan menyatakan diri secara bebas(Rogers, dalam Vernon ,
1982).
Menurut Dacey, keluarga merupakan
kekuatan yang penting dan merupakan sumber pertama dan yang paling utama dalam
pengembangan kemampuan kreatif anak.
Amabile
menyebutkan adanya faktor yang menentukan sikap orang tua secara langsung yang
mempengaruhi kreativitas anak mereka, yaitu :
·Kebebasan
Orang
tua yang memberikan kepercayaan anak untuk bebas cenderung memiliki anak yang
kreatif dibandingkan dengan orang tua yang tidak memberikan kebebasan.
Kebebasan sendiri yang diterapkan oleh keluarga
saya adalah bebas dalam memberikan pendapat, maksudnya adalah bebas dalam
energi yang positif. Orang tua saya mengaplikasikan pola asuh otoritatif.
·Respect
Orang tua yang percaya dan menghormati
anak atas kemampuan yang dimilikinya cenderung memiliki anak yang kreatif.
Di dalam keluarga saya terdapat
banyak kesempatan yang diberikan kepada saya atau saudara kandung yang lain
untuk menggunakan imajinasi sendiri sehingga lebih dibebaskan untuk berkreasi. Orang
tua saya sangat respect terhadap
pilihan-pilihan yang diinginkan oleh anak-anaknya.
·Kedekatan emosional yang sedang
Kedekatan emosional yang terlalu dekat dan
yang bermusuhan sama-sama memiliki dampak yang buruk bagi perkembangan
kreativitas anak. Kedekatan yang stabil atau setimbangan sangat
berpengaruh pada pembentukan dan perkembangan kreativitas.
Kedekatan emosiaonal yang dijalin oleh
orang tua saya adalah kedekatan emosional yang tidak terlalu dekat sekai, juga
tidak terlalu jau sekali. Orang tua dengan saya saling melengkapi, ada saatnya
saya yang harus mendekat, kemudian ada saatnya saya harus sepertinya sedikit
menjauh, begitu juga sebaliknya dengan orang tua saya.
·Prestasi, bukan angka
Orang tua anak kreatif menghargai prestasi
anak bukan hanya sekedar nilai, melainkan prestasi dan imaginasi dari anak.
Orang tua saya sangat menaruh rasa
penghargaan terhadap setiap produk kreativitas yang mampu saya ciptakan sekecil
apapun itu meski tidak diberikan reward secara langsung, namun akan ada berupa
ucapan-ucapan kebanggaan ataupun pujian. Orang tua saya akan lebih bangga
ketika saya lebih mementingkan proses daripada hasil yang akan diraup. Proses yang
nantinya memberikan pelajaran untuk bekal kehidupan.
·Orang tua aktif dan mandiri
Orang tua yang aktif juga mandiri berpengaruh
pada perkembangan kreativitas anak. Maksud dari mandiri ini adalah, mandiri
dalam ekonomi, bertanggung jawab. Sedangkan aktif maksudnya adalah dapat
memilah-milah mana yang baik buat anaknya, dan sesuatu yang buruk bagi anaknya.
·Menghargai kreativitas
Anak akan cenderung melakukan hal kreatif
jika diberikan dukungan dan dihargai atas apa yang akan dilakukannya.
Orang tua saya mengajarkan untuk
selalu menghargai apa saja produk-produk yang dihasilkan oleh anak-anaknya,
tetap menekankan pada proses bukan hasil.
Dari
uraian saya mengenai bagaimana orangtua saya membantu mengembangkan kreativitas
saya dapat dikatakan bahwa keluarga yang saya miliki sangat mendukung apa saja
yang dapat memicu proses penciptaan produk kreativitas. Sesuatu yang ada pada
seorang anak akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika dapat diarahkankan dan
dituntun oleh lingkungan sosial yang paling dekat dengan si anak yaitu keluarga.
PERANAN SEKOLAH
Lingkungan
sekolah adalah salah satu sarana yang juga tidak kalah pentingnya bagi anak,
selain keluarga dalam membentuk dan mengembangkan kreativitasnya. Di sekolah lah, peran
guru menjadi sangat berguna dan tampak dengan jelas, juga akan berpengaruh pada
proses pembentukan kreativitas itu sendiri. Guru mempunyai peranan yang besar
tidak hanya pada prestasi pendidikan anak, tetapi juga pada sikap anak terhadap
sekolah dan proses dalam belajar dan mengajar. Guru dapat menjadi model dari motivasi
intrinsik siswa jika guru tersebut dapat menarik hati si anak dalam asyiknya
belajar.
·Sikap Guru
Sudah 13 tahun saya belajar di
sekolah, dan entah sudah berapa guru yang telah saya temui, sikap yang
ditampilkan para guru tersebut beragam, tidak ada satu pun yang sama. Ada guru
yang benar-benar demokratis, otoriter, ngotot
ingin didengar selalu, sampai ada guru yang permisif sekali, membebaskan
murid-muridnya pada lumpur keburukan.
·Falsafah mengajar
Dikatakan bahwa siswa mestinya
merasa nyaman dan dirangsang di dalam kelas. Hendaknya tidak ada tekanan dan
ketegangan. Terkadang saya juga akan mengalami ketegangan jika gurunya tidak
bersahabat, tetapi saya berusaha sekuat mungkin untuk menyesuaikan dengan
karakter guru tersebut (belajar beradaptasi setelah saya memasuki jenjang SMA)
Dalam kegiatan proses belajar
mengajar, guru hendaknya dapat menggunakan sejumlah strategi khusus yang dapat
meningkatkan kreativitas, yaitu:
·Penilaian
Pemberian umpan balik, melibatkan
siswa dalam menilai pekerjaan. Menurut saya, strategi ini cukup baik dalam
membangkitkan gairah dan semangat anak menumbuhkan kreativitasnya, namun tidak
semua guru yang melakukannya. Hanya beberapa guru yang benar-benar mengikuti
progres siswa melalui interaksi dan penilaian yang terus menerus dengan siswa.
·Hadiah
Materi bukanlah sesuatu pilihan yang
efektif untuk memberikan hadiah kepada anak. Senyuman atau anggukan, kata
penghargaan, dan kesempatan menjadi pilihan yang efektif dalam memberikan
hadiah kepada hasil yang telah dikerjakan oleh anak. Senyuman itu merupakan hal
yang krusial dalam pembentukan dan pengembangan kreativitas anak.
·Pilihan
Untuk pilihan semenjak SD-SMA,
kurang kelihatan kalau guru itu membebaskan anaknya atau muridnya dalam memilih
hal yang diinginkan oleh anak didiknya. Pada masa kuliah inilah sangat terlihat
dosen atau pengajar lebih mengusung pola otoritatif dalam kegiatan belajar
mengajar.
PERAN MASYARAKAT
Arieti (1976 dalam Munandar)
mengemukakan beberapa faktor sosiokultural yang creativogenic yakni:
·Tersedianya sarana-prasarana kebudayaan
·Keterbukaan terhadap rangsangan kebudayaan
·Penekanan pada becoming
tidak hanya pada being
·Memberikan kesempatan terhadap media kebudayaan
bagi semua warga negara
· Mengahargai
rangsangan dari kebudayaan yang berbeda
·Toleransi dan minat terhadap pandangan divergen
·Interaksi antara pribadi yang berarti
·Adanya penghargaan
Mochtar
Lubis (1983) menegaskan bahwa salah satu persyaratan utama bagi berkembangnya
kreativitas suatu bangsa adalah adanya kebebasan.
Pendidikan
formal, adanya model peran, fragmentasi politis, keadaan perang, gangguan
sipil, Zeitgeist, dan ketidakstabilan politis adalah bagian-bagian yang sangat
berpengaruh dalam perkembangan kreativitas anak menurut Simonton (1978).
Peran
masyarakat untuk memupuk bakat dan talenta siswa berbakat sudah semakin banyak
ditemukan akhir-akhir ini seperti kursus, pelatihan, sanggar, dan sebagainya.
Demikian pula untuk bakat dalam bidang psikomotor seperti olahraga dan bahkan
sekarang sudah banyak ditemukan kursus untuk berbagai macam keterampilan
seperti menjahit, memasak, kecantikan, dan sebagainya yang mengembangkan
berbagai talenta. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan
pendidikan anak berbakat dapat terwujud melalui berbagai bentuk
kerja sama.
Nah,
dengan adanya fasilitas-fasilitas yang diberikan oleh masyarakat atau negara
adalah salah satu cara dalam pembentukan dan pengembangan kreativitas anak. Tinggal
kita yang memilih dan menghias, bakat apa yang ingin kita asah lebih dalam
lagi.
Lingkungan keluarga, sekolah, dan juga
masyarakat sangat mempunyai peran yang sangat penting dalam pembentukan dan
pengembangan kreativitas anak. Orang tua harus dapat menjadi model yang baik
untuk anak, dapat mengarahkan keinginan dan bakat anak. Kemudian, guru juga
harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menjadi seorang sahabat terhadap
anak didiknya. Lingkungan masyarakat yang nantinya dihadapi oleh anak menjadi
pengaruh besar dalam pengembangan kreativitas (orang tua dan guru menjadi
prediktor dalam melilih lingkungan yang sehat).